Sapala: Mengaji, Mengkaji, dan Mengabdi kepada Alam Semesta

ALAM semesta bagi santri merupakan kesinambungan dan keseimbangan antar sesama makhluk hidup. Saling membutuhkan antara hablu minallah, hablu minannas dan hablu minal alam.

Tuhan, alam dan manusia tidak dapat dipisahkan sama sekali. Tuhan sendiri menampakkan wujud-Nya lewat alam semesta. Tanpa alam semesta Tuhan tidak akan pernah disebut Tuhan.

Sejak dahulu berwisata merupakan sesuatu yang membahagiakan mayoritas banyak orang, atau biasa disebut refresing. Apalagi adanya momen berkumpulnya keluarga dekat maupun jauh ketika lebaran tiba.

Tidak hanya keluarga, komunitas, persatuan, alumni, dan ikatan tertentu dengan nama masing-masing yang menjadi gemerlapnya toleransi di Indonesia turut andil dalam semarak menyenangkan jiwa yang bernama wisata atau plesiran.

Memang memanjakan mata dengan yang indah-indah dapat menguatkan iman, meningkatkan imun, menambah kecerdasan, menguatkan ingatan, dan menenangkan jiwa. Semua itu berkat keterkaitan segala ciptaan.

Wisata dalam wawasan santri sendiri dimaknai dengan tadabbur alam. Yakni mensyukuri nikmat Allah yang telah diciptakan dan diberikan kepada makhluk berupa sesuatu yang indah, dengan tujuan selalu ingat kepada sang pencipta keindahan.

Santri diajarkan untuk mengaji dan mengkaji dua ayat Tuhan. Satu ada didalam Al-Qur’an yang diturunkan melalui wahyu dan satu lagi ada di alam semesta, yakni segala ciptaanya.

Allah sendiri telah berfirman di dalam kitab-Nya; Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda (ayat) bagi orang yang berakal (QS. Ali Imran (3): (190)

Selain dijarakan untuk mengabdi dan mengkaji, santri juga diwajibkan untuk mengabdi kepada alam dengan cara mencintai lingkungan, merawat dan melestarikannya.

Sejak 8 hari setelah lebaran Id Fitri, Santri Pecinta Alam (Sapala) Lampung selalu melanglang buana, melewati lembah, menyusuri sungai, mendaki gunung, dan menziarahi makam ulama.

Semua itu demi mentadaburi alam raya, mengaji kepada bebatuan, gunung, air dan tumbuhan. Bagaimana sunnatullah berjalan dengan seimbang dan saling melengkapi. 

Sapala selalu meyakini bahwa mendekatkan diri kepada Allah tidak hanya dengan ibadah mahdah. Justru ibadah ghair mahdah salah satunya dengan mentadaburi alam menjadi thariqah dan wasilah dari kedekatan kita kepada Allah melalui makhluk lain bernama alam raya. Manusia sendiri secara dohir selalu bergantung dengan alam, tanpa terkecuali. Mulai dari primer makan dan minum. 

Kami, Sapala, mulai melewati batas daratan dan lautan, menyusuri pantai di semenanjung Tanggamus.

Bagaimana melihat lautan tak terbatas dan triliunan buih di pinggir pantai, mengajarkan bahwa meski manusia bertriliunan dosa, namun pengampunan Allah tak terbatas, dan tidak bisa dibatasi oleh siapapun.

 Mendaki gunung Pesawaran dan menyusuri berbagai air terjun di kaki gunungnya. Dari puncak, kita menyaksikan laut Piabung dan pertiwi dapat sekejap tersapu oleh pandangan mata, seolah sangat dekat.

Mengajarkan bahwa ketika kita sampai kepada derajat yang tinggi, dekat dengan Allah, kita tidak akan pernah sombong ketika melihat kebawah, dan semua itu hanyalah jengkalan dari kehendak-Nya.

 Tidak hanya mengaji kepada gunung dan air, kami juga mengaji kepada orang yang hidup tetapi berbeda alam, menziarahi makam orang-orang shaleh pada zamannya.

Allah sendiri menyebutkan bahwa orang-orang shaleh atau kekasih Allah sejatinya tidak mati, melainkan hidup abadi. Kami menziarahi makam Tubagus Mahmud Petayuman, Tubagus Abdul Muthalib Kelumbayan, Eyang Panca Eka, Eyang Panca Esa dan Eyang Panca Niti di Sukajaya, serta makam Kyai Huda Umbul Kluwih Way Ratai.

Secara dohir saja mereka tetap hidup, yakni hidup dalam kenangan masyarakat dan tidak terlupakan. Menyadur dalam kitab Alala nadzam ke 17, bahwa ‘‘Orang yang alim akan hidup sesudah mati, meski jasadnya hancur didalam bumi’’.

Seirama dengan perkataan dokter Hiluluk dalam serial Anime One Piece, ‘‘Kapan seseorang akan mati?” Saat dia terkena tembakan? Tidak! Saat dia terkena penyakit mematikan? Tidak! Saat dia minum sup dari jamur beracun? Juga tidak. Seseorang akan mati apabila dia telah dilupakan.

(Yudi Prayoga, Sekretaris MWC NU Kedaton)