Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang: STIT Tanggamus Harus Mampu Berinovasi di Abad 21

*Prof. Haris : STIT Tanggamus Harus Mampu Berinovasi di Abad 21*

GISTING- Mahasiswa sebagai calon tenaga pengajar di era milineal ini harus menerapkan metode pengajaran yang disesuaikan dengan karakteristik anak zaman sekarang. Metode yang dimaksud adalah pengajaran model abad 21.

”Metode pengajaran model abad 21 ini menjadi tantangan setiap tenaga pengajar harus kreatif, inovatif menghadapi anak-anak yang telah familiar dengan gawai,” ungkap Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag saat bincang santai bersama Ketua STIT Tanggamus Muhammad Idris, M.Pd.I dan Wakil Rektor 1 IAIN SAS Bangka Belitung Dr. Rusydi Sulaiman, M.Ag di sela-sela sarapan pagi pada kegiatan Rapat Koordinasi Peningkatan Mutu PTKI 2019, di Hotel Novotel Bandarlampung, Jumat (27/9/2019).

Kemajuan sains dan teknologi membawa perubahan mendasar di setiap sisi kehidupan manusia, tak terkecuali lembaga perguruan tinggi. Abad global dan digital berimplikasi pada tantangan dan tuntutan di semua sektor kehidupan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) khususnya STIT Tanggamus dituntut menyiapkan sumber daya manusia yang profesional, proporsional dan berkualitas, sehingga bisa bersaing dengan perguruan tinggi lainnya.

Upaya mengantisipasi repleksi abad 21 itu, Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag meminta untuk menyiapkan langkah strategis dan antisipatif yakni STIT Tanggamus harus mentaati regulasi yang ada, sehingga dengan mengukuti aturan main yang sudah ditetapkan pemerintah, otomatis akreditasinya akan bagus.

”Yang harus diperhatikan adalah PTKIS harus disiplin regulasi dan punya kompetensi, sekarang abad visual, STIT Tanggamus wajib menyiapkan SDM yang handal dan kompetensi yang unggul, sehingga bisa beraing dengan perguruan tinggi lainnya,“ ungkapnya.

Karena itu, lanjut pria yang akrab dipanggil Prof. Haris ini, kompetensi masa depan yang unggul adalah masing-masing PTKIS harus punya distingsi, misalnya PTKIS berbasis pesantren, para dosen mengusai kitab kuning, dan hafal 30 juz alquran, maka mereka bisa mengalahkan PTN–PTN,” ujarnya.

Ditambahkan, PTKIS harus bisa menjawab repleksi di abad 21 yakni sebagai abad perubahan, abad persaingan ketat (high kompetitif), abad ketidakpastian dan gejolak serta abad visual (online). Ke empat refleksi abad 21 tadi harus benar-benar disikapi dan dijawab STIT Tanggamus dengan mempersiapakan SDM berkualitas, tata kelola yang baik dan modern, serta managerial yang profesional dan proporsional.

“Mumpung njenengan (Muhammad Idris) masih muda terus semangat sebagai dosen muda yang diberi tambahan sebagai Ketua STIT Tanggamus dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, itu harus disyukuri usia masih muda dan belum 30 tahun juga sudah mau menyelesaikan program doktor, semoga sukses studi S3nya,” harapnya dalam memotivasi.
_(Muhammad Idris)_