Langgam Kerinduan untuk Kiai Najib Salimi

BUKU ini merupakan kisah-kisah para santri dan jamaah bersama almaghfurlah KH Najib Salimi, ketika beliau masih mengasuh Pesantren Al Luqmaniyah Kelurahan Pandeyan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sebuah buku yang wajib dibaca oleh seluruh keluarga besar Al Luqmaniyah baik santri, alumni, jamaah maupun simpatisan. Isinya menarik dan dikemas ringan dalam bentuk cerpen, tapi akan banyak hikmah yang didapat. Pembaca akan dibawa ke dalam kenangan bersama almarhum semasa hidupnya melalui kisah-kisah yang tertulis.

KH Najib Salimi lahir pada Selasa Pon, 5 Januari 1971 di Mlangi Nogotirto, Gamping, Sleman, Yogyakarta. Ayahnya bernama KH Salimi Mambaul Ulum dan ibunya bernama Nyai Hj Bunyanah.

Sang Ayahanda adalah seorang kiai sepuh kharismatik yang sangat teguh dan keras memegang prinsip yang diyakininya. Tak heran jika beliau sangat disegani baik dilingkungan masyarakat maupun di depan para penjabat.

Silsilah leluhur KH Najib Salimi baik dari jalur ayah maupun ibu akan bertemu pada seorang wali masyhur berdarah raja keraton yaitu BPHR (Bendara Pangeran Haryo Raden) Sandiyo atau yang lebih dikenal dengan nama Simbah Kiai Nur Iman (hlm 6).

Kiai Najib kecil, pertama kali mendapatkan bimbingan ilmu agama langsung dari kedua orang tuanya. Sehingga ilmu-ilmu dasar Tajwid dan Nahwu sebagai jembatan mempelajari Al Quran, Hadits dan Kitab Kuning, telah kokoh tertanam sebagai pondasi sebelum menerima ilmu-ilmu yang lain.

Tahun 1985, setelah beliau menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasarnya, Kiai Najib muda berangkat menuntut ilmu memperdalam ilmu agama di Pesantren API Tegalrejo Magelang, Jawa Tengah, di bawah asuhan langsung KH Abdurrahman Chudlori dan KH Ahmad Muhammad Chudlori.

Setelah 7 tahun lamanya nyantri di Pesantren API Tegalrejo Magelang Jawa Tengah, pada tahun 1992 Kiai Najib muda kembali ke Mlangi membantu ayahanda dalam mengelola Pesantren Assalimiyah yang terlah lama dirintis oleh ayahnya.

Di Pesantren Assalimiyah sendiri, jamaah pengajian dan santri semakin banyak. Agar keberadaan Pesantren semakin dirasakan manfaatnya, maka KH Najib berinisiatif mendirikan Kodesamata (Koperasi Distribusi Ekonomi Santri dan Majelis Taklim), sebagai pemrakarsa otomatis beliau menduduki posisi ketua (hlm 17).

Pada 1 Juli 1999, KH Najib Salimi menikah dengan Siti Hamnah, putri dari KH Chudlori Abdul Aziz pengasuh Pesantren Al Anwar Ngrukem, Kabupaten Bantul, Propinsi Derah Istimewa Yogyakarta.

Tak lama setelah pernikahan itu, yaitu ketika sang istri mengandung 7 bulan, beliau diamanati untuk mengasuh Pesantren Al Luqmaniyah sang ayah. Segera keluarga kecilnya diboyong ke lokasi Pesantren yang berada di tengah kota itu.

Bagi Izzun Nafroni, santri asal Magetan, Jawa Timur, Abah Najib Salimi adalah sosok kiai yang penuh perhatian. Tak hanya kepadaku, beberapa kali kudengar Abah juga bertanya perihal kuliah, perkembangan skripsi dan segala hal yang berkaitan dengan pendidikan santrinya. Perhatian luar biasa yang beliau berikan kepada kami. Abah tidak ingin santri-santrinya mengecewakan orang tua. Tentu saja agar tidak menyia-nyiakan usaha orang tua dalam menguliahkan mereka, demikian tutur Izzun (hlm 33)

Sementara menurut Durotun Nafisah Harun, santri sekaligus lulusan Sastra Arab UAD Yogyakarta ini, abah Najib mengajarkan kepada mereka untuk total dalam mengemban amanah, bukan hanya sekedar jalan atau grudak-gruduk saja. Pun juga mengajarkan bahwa memang selalu ada resiko kecil dalam sebuah perjuangan. Selalu ada pengorbanan yang harus ditebus untuk sebuah kesuksesan (hlm 65).

Lain halnya dengan M. Hariwijaya, santri lainnya. Baginya Abah Najib mengajarkan banyak hal, salah satunya hidup sederhana. Abah Najib telah menunjukkan hidup tidak harus mewah bergelimang kemewahan. Tujuan untuk membentuk santri yang tangguh, tidak harus memanjakan dengan fasilitas (hlm 164).

KH Najib Salimi wafat pada tanggal 30 September 2011 pada usia 40 tahun. Beliau dimakamkan di Dusun Mlangi, Desa Nogotirto, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Provinsi Derah Istimewa Yogyakarta. Lahul Faatihah (Akhmad Syarief Kurniawan/penggiat LTN NU Lampung Tengah).

Identitas Buku:

Judul : Mengenang dan Meneladani KH Najib Salimi Based On True Stories
Penulis : Lidyana Istianti, dkk
Penerbit : Elmatera Publishing, Yogyakarta
Terbit : Mei, 2017
Tebal : xv + 225 Halaman
Nomor ISBN : 978-602-6549-08-2