Kanan Mati karena Tidak Mau Naik Perahu

Kanan Mati karena Tidak Mau Naik Perahu

Cerpen Agus Salim

Kanan mati karena tidak mau naik perahu!

Ya, begitulah kesimpulan dari cerita yang akan aku kisahkan kali ini. Tapi, aku yakin, sebuah kesimpulan, tidak akan memuaskan kalian sebagai pembaca, dan, aku yakin juga, kalian sudah mulai penasaran dengan cerita utuhnya. Biar tidur kalian bisa nyenyak, maka simak cerita ini sampai tuntas.

*

Jalan berdebu putih itu sebagian sudah dipasangi tenda. Terik matahari terus maningkat tensinya, menghajar siapa saja yang ada di bawahnya. Suara orang mengaji melantang di udara melalui toa. Satu-satu orang berdatangan. Para laki-laki berdiri di samping-samping rumah-rumah orang menghindari terik matahari, dan para perempuan duduk di bawah tenda. Para santri bergerombol di depan masjid.

Di dalam rumah kecil yang bersebelahan dengan musala kecil pula, sesak dengan perempuan. Mereka membaca talqin. Suara mereka menggema seperti kumpulan ribuan lebah yang mendengung secara bersamaan. Dan, di antara mereka itu, tidak ada satu pun yang menumpahkan air mata, termasuk Salamah, perempuan yang baru saja melahirkan anak keduanya. Ia hanya menunduk, mengarahkan pandangannya pada buku kecil berisi tulisan-tulisan arab, bacaan talqin. Dan, sesungguhnya, ia tak mau berada di tengah-tengah kerumunan para perempuan yang lagi khusyuk itu. Ia ingin berada di rumah orang tuanya, melupakan semuanya, termasuk melupakan suaminya: Kanan. Ia tak sabar ingin memulai hidup baru, segera mencari suami baru meski bukan dari keturunan kiai.

Apa sebenarnya yang telah terjadi, sampai-sampai Salamah memiliki keinginan semacam itu? Itu tak lain tak bukan disebabkan karena ia benci Kanan. Ia benci perilaku-perilaku Kanan yang sama sekali tidak menampakkan kalau ia adalah keturunan Kiai Muslih, pengasuh Pondok Pesantren Al Khairat.  Di bawah ini adalah perilaku-perilaku Kanan yang tidak dibenci Salamah:

  1. Kanan si ringan tangan. Disebut si ringan tangan karena selama menjadi suami Salamah, ia sering memukul. Padahal Salamah orangnya penyabar, tak pernah melawan perintah Kanan. Salah sedikit, mukul. Tak punya salah pun Salamah tetap dipukul. Kalau divisum, pastilah banyak bekas pukulan di tubuh Salamah. Tapi, Salamah pandai menyembunyikan bekas-bekas itu.  
  2. Kanan si ringan lidah. Dikatakan si ringan lidah, karena Kanan suka marah. Kalau marah tak tanggung-tanggung. Semua nama binatang disebutnya untuk ditujukan kepada Salamah. Salamah tetap tak pernah melawan, juga tak pernah mau mengadukannya kepada siapa-siapa. Ia simpan rapat-rapat untuk dirinya sendiri.
  3. Kanan si penentang Tuhan. Ini yang berat. Dibilang si penentang Tuhan karena Kanan tidak mau mengerjakan semua perintah Tuhan yang wajib-wajib. Perintah salat, puasa, zakat, diabaikannya. Salamah tahu dan sudah mengingatkan berkali-kali. Tapi ia tak mau memaksakannya kepada Kanan. Sebab Kanan bukan orang bodoh yang tak tahu soal hukum dan ajaran agama.
  4. Kanan si teman jin. Ini juga termasuk kesukaan Kanan yang berat. Tak mau mengerjakan perintah Tuhan, dan lebih suka berteman dengan jin. Seringkali Kanan pamit keluar malam kepada Salamah hanya untuk memenuhi panggilan jin ini dan itu. Salamah tahu dan sudah mengingatkan, kalau itu perbuatan tak benar, musyik, tapi, sekali lagi, ia tak mau memaksakannya kepada Kanan.

Semua perilaku itu ada dalam catatan buku rahasia Salamah. Dan selama satu tahun hidup bersama Kanan, sudah berhasil membuat Salamah sakit-sakitan. Tapi, untung, ia bisa kembali tegar dan sembuh dari sakitnya, dan berusaha menikmati hidup bersama Kanan walau sakit hatinya. Apakah itu tindakan bodoh? Tentu saja bodoh. Sebenarnya, bisa saja Salamah meminta cerai karena ia memiliki banyak bukti untuk dijadikan alasan cerai. Tapi, ia tak mau melakukannya karena ia tak ingin mengecewakan kedua orang tuanya. Ia telah bersumpah pada dirinya sendiri, bahwa ia mampu menjadi istri yang solehah. Lagi pula, Kanan tidak pernah memberi perintah kepada Salamah untuk melanggar perintah Tuhan. 

Dua tahun setelah menikah, Kanan ditangkap polisi karena ketahuan memakai satu jenis obat-obatan terlarang: sabu-sabu.  Dan ini, salah satu kelakukan buruk Kanan yang tak diketahui Salamah. Waktu penangkapan, didapatkan barang bukti 16 kilogram sabu-sabu siap pakai di lokasi penangkapan, yaitu di sebuah perumahan yang letaknya ada di tengah kota, jauh dari pondok.  

Maka, gemparlah Pondok Pesantren Al Khairat, dan kabar penangkapan itu seperti angin, menyebar cepat ke segala penjuru, menyusup ke telinga-telinga, dan membuat banyak mulut melontarkan pertanyaan yang sama: Kenapa putra seorang kiai berbuat seperti itu? Dan pertanyaan itu diakhiri dengan ungkapan yang sama pula: memalukan.

Orang yang paling terpukul atas peristiwa itu adalah Kiai Muslih, sang ayah Kanan. Saat menerima kabar itu, ia langsung bersimpuh di atas sajadah, dan untung ada Nyai Salihah yang terus-menerus mencoba menenangkannya, dan menyemangatinya.

“Aku tak menyangka, anak kita bisa jatuh dalam dunia obat-obatan,” kata Kiai Muslih.

“Itu sudah takdir, Abah. Kita tak bisa mengubah takdir,” sahut Nyai Salihah

“Padahal aku sudah mengajarkannya kitab kuning, aku juga telah memondokkannya di pondok pesantren besar dan terkenal.”

“Itu bukan jaminan, Abah, bukan jaminan.”

“Dia lulus sebagai santri terbaik, dan sekarang malah bikin malu di kampung sendiri. Apa sebenarnya mau anak itu. Apa dia tidak kasihan sama anak-istrinya?”

“Kita berdoa saja, Abah. Biar kita dan Kanan diberi ketabahan. Ini cobaan buat kita, Abah.”

“Mau ditaruh di mana mukaku ini, Mik? Pasti semua orang yang tinggal di lingkungan pondok pesantren ini sudah tahu kabar itu.”

“Sudahlah, Abah. Aku yakin mereka pelan-pelan akan memahami, bahwa setiap manusia tidak akan pernah luput dari perbuatan salah dan dosa, termasuk anak kiai sekali pun.”

Sebenarnya bukan hanya Kiai Muslih yang merasa terpukul, tapi juga Salamah. Saat tahu kabar itu, ia menangis hebat di dalam kamarnya sambil menemani anak pertamanya yang lagi tidur. Andai bisa, dan kedua orang tuanya yang jauh di sana mau menerima, ia ingin kabur saat itu juga. Ia tak kuat menerima kenyataan memalukan itu. Dan lagi pula, ia tidak pernah mencintai Kanan meski sudah memliki satu anak dan perutnya dalam keadaan mengandung anak yang kedua. Lalu bagaimana Salamah dan Kanan bisa bersatu dalam rumah tangga tanpa didasari rasa cinta? Ada cerita menyedihkan di balik pertanyaan itu. Begini kisahnya:

Waktu itu Salamah tidak punya kekuatan untuk menolak keputusan sang ayah saat dijodohkan dengan Kanan. Tradisi yang berlaku, anak kiai harus menikah dengan anak kiai, tanpa peduli ada cinta atau tidak. Sungguh tidak sepadan memang jika wajah mereka disandingkan. Salamah berparas cantik seperti bulan purnama, sedangkan Kanan memiliki wajah buruk, dan tak bisa diungkapkan bagaimana buruknya si Kanan dalam cerita ini. Tapi, ayah Salamah yang dulunya bekas santri di pondok pesantren milik Kiai Muslih, merasa ewuh-pakewuh saat menghadapi permintaan perjodohan itu. Tak bisa ia menolak meski berat hatinya melepaskan anak yang dibesarkannya dengan kasih sayang. Selepas hari perjodohan itu, esok harinya, Salamah mencoba iseng-iseng menggungat keputusan ayahnya dengan harapan ayahnya bisa berubah pikiran.

“Maaf, Abi, jika saya lancang. Setahu saya, di dalam hukum agama orang tua tidak boleh membuat keputusan soal pejodohan sebelum meminta pendapat anaknya? Keputusan seorang ayah ada di tangan anaknya. Bukankah begitu?”

“Kau benar, Mah. Tapi dalam tradisi, aku tidak bisa menggunakan hukum agama.”

“Tradisi yang tak baik kenapa dibiarkan hidup subur, kenapa tidak dilawan?”

“Aku tak sanggup, Nak. Tak sanggup. Ada akibat yang harus ditanggung. Akibat paling kecil adalah hujatan yang akan datang kepadaku, kepada keluarga ini.”

“Kalau cuma hujatan, kenapa harus takut? Bukankah nabi kita dulu juga sering menerima hujatan saat menyebarkan ajaran agama yang benar?”

“Kita tidak hidup di zaman nabi, Mah. Sudahlah, jangan banyak bicara lagi. Terima saja keputusanku. Aku yakin, kalau keputusanku akan mendatangkan kebaikan dalam hidupmu jika kau ikhlas menerimanya.”

Kalimat terakhir dari mulut sang ayah itu yang membuat Salamah bungkam dan seterusnya membuat ia menjadi pendiam, sampai sekarang.

Selang satu minggu dari penangkapan itu, Kiai Muslih, tanpa didampingi Nyai Salihah, berkunjung ke sel tahanan polres, menjenguk Kanan. Melihat sang ayah, Kanan sama sekali tak bahagia.

“Untuk apa kau datang kemari?”

“Tentu menjengukmu.”

“Aku tidak perlu dijenguk.”

“Kenapa?”

“Karena aku beda denganmu.”

“Kau darah-dagingku, apa yang membuat beda?”

“Aku pasti masuk neraka, dan kau masuk surga. Itu bedanya.”

“Kenapa kau bisa begitu yakin?”

“Dosaku besar. Sangat besar. Tuhan pasti tidak mau mengampuniku.”

“Kau salah. Tuhan maha pengampun. Bertobatlah.”

“Aku sudah tidak memiliki Tuhan. Aku adalah Tuhan itu sendiri.”

“Kenapa kau bisa bicara begitu?”

“Sudahlah, jangan banyak tanya. Tuhan sedang capek menjawab.”

“Kembalilah ke jalan Tuhan, Nak. Tidak ada kata terlambat.”

“Sudah aku bilang, aku adalah Tuhan bagi diriku sendiri. Sekarang Tuhan mengantuk, mau tidur. Kau pulanglah.”

Merasa sudah tidak bisa diteruskan dan dipaksakan, Kiai Muslih menuruti perintah Kanan. Ia pulang dengan hati terpukul. Tak menyangka, ia sungguh tak menyangka kalau anaknya akan menjadi seperti itu. Sesampai di rumah, ia ceritakan semuanya kepadanya Nyai Salihah. Sudahlah, Abah, mungkin Kanan sedang kacau pikiranya, begitu kata Nyai Salihah, mencoba menenangkan hati suaminya. Ia sendiri, sesungguhnya, sedang menangis di dalam hatinya.

Selang seminggu dari itu, sepulang dari berceramah di sebuah masjid, Kiai Muslih mampir ke Tambak Larangan. Di situ jalanan sangat sepi, tapi terang-benderang,  dan ia menyetir sendiri mobilnya. Ia parkir mobil di sisi kanan jalan, dan ia keluar dari dalam mobil hanya untuk menyaksikan bulan yang tampil bundar, sambil merenungkan nasib Kanan. Tak lama kemudian, ia melihat sosok berlari di tengah tambak yang kering airnya, menuju ke arahnya. Ada beberapa orang sedang mengejarnya di belakang. Lama-lama sosok itu semakin jelas, dan mulut Kiai Muslih berguma: Kanan!

Ya, itu Kanan. Kanan kabur ketika hendak diinterogasi, dan berhasil mencuri pistol milik salah satu polisi. Akibat aksinya itu, ada satu polisi yang terluka para karena terkena peluru.  

Kanan kemudian sembunyi di balik tubuh Kiai Muslih sambil menodongkan pistol ke kepala Kiai Muslih. Orang-orang yang mengejar itu berhenti dan berkata: Lepaskan pistol itu, dan menyerahlah.

“Apa yang kau lakukan, Kanan? Aku ini ayahmu!” kata Kiai Muslih.

“Aku bukan Kanan, aku Tuhan. Jadi diamlah,” jawab Kanan tegas.

“Kalau kau memang Tuhan, kenapa kau takut pada mereka?”

“Sudah, diam. Jangan banyak bicara.”

“Menyerahlah Kanan, sebelum kau celaka. Naiklah ke perahu itu,” Kiai Muslih menunjuk mobil polisi yang baru datang dan diparkir agak jauh, “Kau pasti akan selamat.”

“Tidak. Aku tidak mau menyerah.”

Saat mereka asyik bicara, ada suara tembakan menghentikannya. Kanan jatuh dan mati seketika. Ia tertembak tepat di keningnya. Kiai segera bersimpuh dan mendekap tubuh Kanan seraya berkata:

“Andai kau mau naik perahu, Nak, kau pasti selamat. Ketahuilah, Kanan, Tuhan maha pengampun. Ya, maha pengampun. Tapi, bagimu sekarang, ampunan itu tak pernah ada.”

*

Begitulah ceritanya. Sekarang suasana masih berkabung. Kiai Muslih dan istrinya masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Tapi, Salamah? Ia bahagia dengan kematian Kanan.

Asoka, 2018

Tulisan ini merupakan nominasi juara dalam lomba Cerpen tingkat nasional Harlah laman nulampung.or.id. Tulisan ini sudah dibukukan dalam kumpulan Cerpen “Ustaz Miring Kampung Kami” yang diterbitkan oleh LTN PWNU Lampung, Mei 2019.”

Agus Salim lahir di  Sumenep, Jawa Timur, 18 Juli 1980.  Karya-karyanya banyak dimuat di media lokal maupun nasional. Cerpennya yang sudah dibukukan dalam antologi  bersama: Sang Pelukis Kupu-Kupu  (AG Presindo, 2013), Dosa Membunuh dan Membunuh Dosa (Langgam Pustaka, 2017), dan Sebuah Kisah Melupakan Mantan (Ernest, 2017). Buku kumpulan cerpen tunggalnya  adalah Lima Cerita dalam Satu Malam di Bawah Bulan Gerring (Intishar, 2017). Sudah kerap memenangkan berbagai kejuaraan lomba menulis cerpen dan puisi.