Benang Merah Dibalik Aksi Bom Bunuh Diri

Benang Merah Dibalik Aksi Bom Bunuh Diri

Oleh : M. Rifai Aly

PERISTIWA baru-baru ini tentang bom bunuh diri oleh pasangan suami istri di Gereja Katedral, Makassar dan  penyerangan di Mabes Polri sungguh mencuri perhatian rakyat Indonesia.

Memang nyaris sama dari peristiwa-peristiwa sebelumnya. Sebut saja insiden ledakan bom  di jalan MH. Tamrin Jakarta dan sebagainya. Pelaku berani melakukan tindakan nekat dan sangat tidak terpuji.

Muara dari rentetan peristiwa tersebut adalah akibat dari paham ekstem dan radikal, seperti kelompok Islam state of irak and syiria (ISIS )dan Jamaah Ansorut Daulah (JAD).

Salah satu doktrin dari paham ini menganggap tindakan bom bunuh diri merupakan perbuatan mulia di hadapan Allah SWT, dan diakhirat mendapat jaminan surga.

Demikian doktrin (upaya cuci otak ) yang mereka yakini. Agama menjadi jalan untuk menyalurkan aspirasi dari kekecewaan, kemarahan, terhadap pemerintah.

Hal itu justru menunjukkan kedangkalan ilmu mereka dalam memahami Islam. Agama seharusnya menjadi inspirasi, menjadikan agama sebagai petunjuk, pedoman hidup (QS Al-Baqarah/2:3), dan menjadi penenang di saat hati gundah gulana (QS Ar-Ra’d/13:28).

Sejenak kita tarik ke belakang, para sejarawan muslim menyatakan bahwa awal sekte      al-Khawarij bernama Abdullah bin al-Khuwaishirah al-Tamimi. Dalam hadist riwayat al-Bukhari dari Abi Abi Sa’id dijelaskan ´´ ketika Nabi Muhammad SAW membagikan Ghanimah (harta rampasan) al-Khuwaishirah datang dan memprotes, ’’bersikap adillah wahai Rasulullah.!’’ Lalu Nabi SAW menjawab,’ ’Celaka kamu, siapa yang bisa bersikap adil jika aku saja kamu tuduh tidak bisa adil’.”

Umar bin Khatab berkata, `Izinkan Aku memenggal lehernya! Nabi SAW menjawab, biarkan dia! Sesungguhnya dia mempunyai pengikut yang solat dan puasa mereka membuat kalian minder, akan tetapi mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari busur.(Sohih Bukhari Bukhari jilid 2 hlm503.)

Puncaknya ketika konflik antara sahabat Ali RA. dan Mu´awiyah RA. Ketika sahabat Ali menerima tawaran atbitrase  tahkim (kesepakatan damai) dari kelompok Mu´awiyah RA.
Beberapa kelompok yang semula memihak Ali berbalik melawannya di samping Mu´awiyah RA, serta menyeru berhukum dengan hukum Allah.  La hukma illa lillah, kata mereka dengan mengutip surat al-Ma´idah ayat 44.

Mereka menganggap kelompok Ali dan Muawiyah telah  melakukan dosa besar, dituduh kafir dan halal darahnya karena berhukum tidak berdasarkan Al-Quran. Kelompok ini dinamakan kelompok khawarij yang artinya keluar dari barisan Ali RA

Kini,  aksi para teroris saat ini memiliki kesamaan sifat dengan kaum khawarij masa lalu. Mereka sama-sama menggunakan cara kekerasan dalam mencapai tujuan yang dikehendaki, menghalalkan segala cara dengan mengatasnamakan jihad. Menganggap kelompok yang beda dengannya dianggap sesat, kafir dan wajib diperangi. Tindakan yang sesungguhnya jauh dari ajaran Islam itu sendiri. Hampir seluruh agama di dunia mengecam keras tindakan  pelaku teroris karena dianggap sangat tidak manusiawi dan melanggar HAM. Banyak korban tewas tidak bersalah akibat tindakan tersebut.

Selama ini korban bom bunuh diri banyak dialami oleh kelompok muda yang terpapar paham Islam radikal, ekstrem, dan anti-Pancasila. Salah satu upaya untuk membentegi generasi milenial dari paham radikalisme ialah bagaimana lingkungan kelurga memberi pemahaman Islam yang damai, menghargai perbedaan dan menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama, Islam   rahmatan lilalamin.

Sesungguhnya pemerintah telah membekali dengan wawasan kebangsaan yang cukup. Bagaimana generasi milenial rata-rata usia 18-30 tahun  memiliki jiwa nasionalisme dan patriotisme untuk lebih mencintai negeri ini, karena usia itu masa–masa mengenyam perguruan tinggi dan mencari jati.

Semoga bangsa Indonesia  menjadi negara baldatun toyyibatun wa rabbun ghofur, negara yang aman penuh ampunan. Falsafah Jawa mengatakan gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo (kekayaan alam yang melimpah dan tentram damai). Amin..

Penulis merupakan dosen pada  Fakultas Ushuluddin UIN Raden Intan Lampung