IMG-20181118-WA0307

Tutur Katamu Adalah Jendela Hati dan Fikiranmu

Oleh: Rudy Irawan (wakil ketua PCNU Bandar Lampung, dosen tarbiyah UIN Lampung)

Anak-anak muda bilang, “mulutmu harimaumu”. Kata-kata yang kalau secara khusus ditujukan kepada seseorang, akan bisa marah, karena bisa dianggap sebagai bentuk ujaran kebencian. Mengapa, karena ia termasuk ciptaan Tuhan yang menghuni di kebun binatang dan alam raya ini. Rasulullah saw berpesan:

عن أبي هريرة رضي الله عنه : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ( من كان يؤمن بالله واليوم الآخر ، فليقل خيرا أو ليصمت ، ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر ، فليكرم جاره ، ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر ، فليكرم ضيفه ) رواه البخاري ومسلم .
Riwayat dari Abu Hurairah, semoga Allah meridlainya, bahwa sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka bertutur kata lah dengan tutur kata yang baik, atau (supaya lebih baik) diamlah, barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tetangganya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tamunya” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).
mari kita cermati secara seksama, mengapa kalimat “man kana yu’minu biLlahi wa l-yaumi l-akhiri” diulang tiga kali menyertai muatan pesan Rasulullah saw.? Tampaknya Rasulullah saw sangat serius mewanti-wanti umat beliau, agar mampu memahami bahwa bukti keimanan kepada Allah dalam versi hadits tersebut, adalah pertama, supaya senantiasa bertutur kata yang baik. Jika tidak bisa bertutur kata yang baik, lebih baik diam. Kedua, memuliakan tetangga, dan ketiga, memuliakan tamu.
Dalam riwayat yang lain, beliau menegaskan:
رواه أنس بن مالك رضي الله خادم رسول الله، عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ)(متفق عليه)
Anas bin Malik ra pelayan Rasulullah saw meriwayatkannya, bahwa Nabi saw bersabda: “Tidaklah beriman – secara baik – seseorang dari kamu sekalian sehingga ia mencintai saudaranya, seperti ia mencintai dirinya sendiri” (Muttafaq ‘alaih).
Di tengah hingar bingar dan makin panasnya “suhu politik” karena masa kampanye yang amat sangat panjang enam setengah bulan, rasa-rasanya makin hari kita ikut terbawa “pengap dan panas”-nya suhu dan asap politik. Semoga kita tetap bisa menjaga kesejukan dan tidak terpancing oleh suasana panas. Hidup kita ini rasanya sudah penuh masalah yang datang silih berganti, maka jangan ditambah dengan masalah-masalah ujaran, tutur kata kita.
Bahasa-bahasa yang sesungguhnya tidak sepantasnya muncul, belakangan muncul di wilayah publik, media sosial, bahkan di panggung politik. Bahkan stasiun TV swasta tertentu pun menjadikan headline “tampang Boyolali vs Sontoloyo”. Ada juga maaf yang rasanya tidak nyaman sebenarnya untuk menyebutkan “kampret vs cebong”.
Saya tidak hendak mengajak kita larut apalagi ikut masuk pada “perangkap” untuk ke dalam salah satu front, karena kita harus berusaha mengembalikan kehidupan dan kohesi sosial kita yang selama ini berjalan dengan sangat baik, marwah pemilihan umum yang merupakan gawe rutin, pada pemilu yang beradab, bermartabat, dan memuliakan satu sama lain. Betapa tidak santunnya kita semua, jika hanya karena masa kampanye yang terlalu lama, 6,5 bulan, dan beda pilihan calon presiden dan cawapres, kita harus bertengkar, saling merendahkan martabat kita. Mari kita bangun kembali jati diri dan karakter bangsa Indonesia kita yang santun, relijius, tidak senang berbeda atau berhadap-hadapan secara terbuka.
Hujjatul Islam Imam Abu Hamid al-Ghazali mengatakan, bahwa mulut atau lisan kita merupakan sesuatu yang paling tajam di dunia ini. Apabila tutur kata lisan kita sudah mengeluarkan omongan yang melukai orang lain, maka tampaknya selama hidup pun tidak akan pernah terlupakan, meskipun mungkin bisa diobati dengan meminta maaf kepada orang yang tersakiti atau saling memaafkan.
Karena itulah, kita musti berhati-hati dalam berbicara. Bak panah yang akan kita keluarkan dari busur, tajam dan bisa mematikan, sekaligus beracun, yang akan membawa radiasi pada orang-orang di sekeliling kita. Lisan adalah jendela hati dan fikiran kita. Tutur kata yang lembut dan santun menggambarkan hati dan fikiran seseorang, bahwa kepribadiannya baik, santun, dan lembut. Bahwa suatu saat marah, tentu hal yang wajar sebagai manusia. Maka jika Rasulullah saw berpesan dan dikaitkan dengan iman kepada Allah dan hari akhir, karena tutur kata kita itulah cerminan hati, keyakinan dan keimanan kita yang sesungguhnya. Muaranya tutur kata kita adalah kaca cermin dari kualitas keberagamaan kita.
Apalah artinya kita mengaku sebagai orang yang beriman, apalagi merasa paling beriman dengan simbol-simbol keagamaan yang cenderung casing atau kulit saja, sementara tutur kata tiap hari sarat dengan fitnah, “gorengan”, dan berbagai hal yang penuh hasutan, maka tidak ubahnya kita “memakan” daging saudara kita sendiri yang sudah menjadi mayat, yang pasti kita tidak menyukai atau membencinya.
Mengakhiri renungan ini, kita cermati seksama pesan Rasulullah saw:
رواه عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما عن النبي : «المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده»رواه البخاري ومسلم, وفي رواية لمسلم : « أن رجلاً سأل رسول الله : أي المسلمين خير؟ قال : من سلم المسلمون من لسانه ويده »
Riwayat Abdullah bin ‘Amr ra, Nabi bersabda: “Orang Islam (yang kualitas keberagamaannya baik) adalah orang yang berbuat kedamaian (keselamatan) orang-orang Islam (lainnya), dari tutur kata lisannya dan tangan (kekuasaan)-nya” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat Muslim, “sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw : “Mana orang-orang Islam yang baik?” beliau bersabda: “adalah orang yang berbuat kedamaian (keselamatan) orang-orang Islam (lainnya), dari tutur kata lisannya dan tangan (kekuasaan)-nya”.
Semoga kita sebagai anak bangsa Indonesia yang sama-sama mencintai NKRI, apalagi yang mau mengakui NKRI harga mati, kita buang jauh-jauh sentimen, kebencian, dan kecongkakan. Kita ganti dengan rasa sayang, saling menghormati, kita bersatu membangun bangsa ini dengan persaudaraan sejati. Kita hidupkan lagi ikrar sumpah pemuda yang belum lama kita peringati. Rawe-rawe rantas malang-malang putung. Kita jaga bersama Indonesia Rumah Besar Kita. Kebhinnekaan adalah Karunia terbesar Allah Tuhan YME pada kita semua. Bhinneka Tunggal Ika. Tutur katamu adalah jendela hati dan fikiranmu.
Allah a’lam bi sh-shawab.

Beritahu temanmu dengan membagikannyaShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on TumblrShare on VKShare on YummlyShare on StumbleUponShare on RedditPin on PinterestEmail this to someoneDigg this