H. Muchtar Luthfie dengan sejumlah plakat kenang-kenangan IPNU dan PMII yang masih tersimpan baik di rumahnya. Plakat-plakat itu menjadi salah sumber pendanaan IPNU dalam menyelenggarakan kegiatan di masa lalu.

Sejarah dan Semangat Kader di Awal Berdirinya IPNU Lampung

BANDAR LAMPUNG – Ikatan Pemuda Nahdlatul Ulama (IPNU) dibentuk kisaran tahun 1966. Ketika itu, pembentukan organisasi pemuda ini didasari pada kekosongan peran pemuda NU di organisasi Kesatuan Aksi Pemuda Indonesia (KAPI).

Pada massa itu, KAPI dan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) menjadi dua organisasi yang mewakili pemuda dan mahasiswa di masa itu.

“Kalau di KAMI, kami sudah punya wakil. Tapi di KAPI belum. Karena itulah, kawan-kawan bersepakat untuk membentuk IPNU untuk keterwakilan pemuda di KAPI. Saya langsung ditunjuk menjadi ketua,” kata H. Mukhtar Luthfie kepada nulampung.or.id.

Kiprah IPNU, di zaman kepemimpinan H. Mukhtar Luthfie cukup sensasional. Kisaran tahun 1969, IPNU Lampung pernah menggelar kegiatan Advance Training (latihan kader tingkat tinggi) berskala nasional.

Lili Wahid (berkacamata) saat menghadiri Advance Training di Lampung.
Lili Wahid (berkacamata) saat menghadiri Advance Training di Lampung.

Acara yang dihelat di Gedung IAIN lama di Kaliawi itu dihadiri ratusan kader IPNU dari seluruh Indonesia. Beberapa diantaranya adalah Bachtiar Panglema Polem (Wakil Ketua PB IPNU) asal Aceh serta Lili Wahid, saudara perempuan dari mantan Presiden RI, Abdurahman Wahid atau Gus Dur.

“Saya lupa berapa hari kegiatan itu digelar. Tapi acaranya sangat sukses. Banyak peserta hadir, dari Aceh hingga Indonesia Timur,” katanya.

Kata pria yang karib disapa Ayah itu, bukan hal yang mudah untuk menggelar acara tersebut. Mantan Dosen Universitas Saburai ini mengisahkan bagaimana sulitnya perjuangan kader-kader IPNU dalam mencari pendanaan biaya.

“Selain gotong royong dan bantuan PB IPNU, kami juga berinisiatif menjual plakat (kegiatan) ke warga NU. Harganya tidak dipatok, terserah mau dibayar berapa. Alhamdulillah, banyak warga dan tokoh NU yang membantu. Bahkan, ibu-ibu Muslimat juga turut andil memberikan bantuan berupa nasi bungkus kepada para peserta,” tuturnya.

20170917_092937

Alhamdulillahnya lagi, beberapa tokoh juga bersedia mengulurkan tangan. Seperti bantuan Ketua Serikat Buruh NU (Sarbunusi) Volta Djelipanglima yang kala itu memiliki usaha percetakan mau membantu mencetak selebaran pengumuman kegiatan.

“Kami kemudian memasak terigu menjadi lem, dan kemudian jalan kaki hingga berkilo-kilo (meter) untuk memasang selebaran di jalan-jalan dan tempat-tempat strategis lain,” katanya.

Kata Ayah Muckhtar, untuk menampung peserta yang begitu banyak, IPNU Lampung menyewa beberapa losmen yang dekat lokasi. Diantaranya Losmen Cilamaya dan lainnya.

Marching Band "Rajawali" milik GP Ansor
Marching Band “Rajawali” milik GP Ansor

Beragam kegiatan pun dilakukan saat Advance Training. Seperti acara pembukaan yang dimeriahkan dengan pergelaran marching band Rajawali milik GP Ansor. Kemudian baiat peserta yang dilakukan di salah satu pemakaman umum di wilayah Gedongair, Tanjungkarang Barat.

“Kami melakukan napak tilas dan tahlilal, mendoakan mereka yang sudah dimakamkan. Kemudian mengikuti kegiatan di salah satu pesantren di Talangpadang (sekarang masuk wilayah Tanggamus),” katanya.

Selain kegiatan itu, IPNU Lampung juga pernah mengikuti kegiatan Porseni di Semarang kisaran tahun 1970. Untuk mengikuti kegiatan ini, IPNU juga harus ‘banting tulang’ untuk mencari dana.

Yang dikenang oleh H.Mukhtar Luthfie adalah ketika ia dan teman-temannya terpaksa harus mendatangi sejumlah anggota DPR RI di Jakarta. “Baik yang utusan NU, atau yang punya hubungan baik, kami datangi,” katanya. “Alhamdulillah, banyak yang ngasih. Itulah tiket yang kami pakai untuk berangkat ke Semarang,” tambah suami dari Hj. Nunung Suharti ini.

Menurut pria yang juga menjadi salah satu inisiator terbentuknya PMII di Lampung  ini, perjuangan pemuda di masa lalu sangat luar biasa. Dan semua jerih payah dilakukan murni untuk organisasi.

“Kami bekerja keras. Tak ada motif uang atau bisnis. Yang kami lakukan adalah kebanggaan untuk diri sendiri,” pungkasnya. (ilo)

Beritahu temanmu dengan membagikannyaShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on TumblrShare on VKShare on YummlyShare on StumbleUponShare on RedditPin on PinterestEmail this to someoneDigg this