IMG-20180611-WA0000

Puasa dan Kebeningan Hati

Puasa dan Kebeningan Hati

Oleh; Rudy Irawan

RASULULLAH SAW mengingatkan bahwa di dalam diri kita terdapat segumpal darah,  yang apabila baik maka seluruh fungsi anggota tubuh yang lainnya akan berjalan baik. Dan apabila segumpal darah tersebut tidak baik, maka seluruh fungsi anggota tubuh lainnya juga akan buruk juga. Ingat itu adalah hati (Riwayat al-Bukhari dan Muslim). 

Setiap kita pada saat dilahirkan kita berada dalam kondisi fitrah (suci, beragama tauhid, Islam). Karena itu, sabda Rasulullah saw yang menegaskan bahwa “Kullu mauluudin yuuladu ‘ala l-fitrah fa innamaa abawaahu yuhawwidaanihi au yumajjisaanihi au yunashshiraanihi”.  Artinya:

“Setiap (bayi) dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanya-lah yang meyahudikannya, memajusikannya, atau menashranikannya”. Tidak ada kata “yuslimaanihi” atau “mengislamkannya”. Ini menunjukkan bahwa makna fitrah dalam sabda Rasulullah SAW tersebut adalah Islam.

Menurut filosuf Ibnu Sina, fitrah itu adalah angan, dorongan, keinginan, pemikiran, dan kesengajaan hati untuk melakukan sesuatu yang baik, benar, dan indah. Karena itu, mari kita renungkan dan rasakan, sebenarnya hati kecil kita, hati nurani kita, atau hati “bening” kita, akan selalu “protes” manakala akal, emosi, atau jasmani kita melakukan kesalahan yang berujung tidak baik, tidak benar, dan tidak indah.

Misalnya, ketika kita berbicara yang “menusuk” perasaan atau hati orang lain, maka hati bening kita itu akan merasa tidak nyaman. Bahasa Jawanya, “nyesak” di dada.

Atau misalnya ketika “relasi kerja kita” atau katakanlah “anak buah” kita, mendapatkan kesempatan untuk suatu kebaikan, yang itu boleh dikatakan tidak akan datang dua kali, kemudian kita tidak bisa membantu, dengan alasan yang tidak jelas, maka hati kita juga “protes” atau setidaknya merasa tidak nyaman.

Mengapa, karena naluri, tabiat, dan karakter atau fitrah kita sebagai manusia itu, adalah ingin menolong, membuat orang lain senang dan bahagia. Namun kadang karena pertimbangan emosional, kita kemudian merasa lebih senang, ketika kita bisa mempersulit orang lain.

Dari sinilah kemudian muncul ungkapan tidak enak serasa “ledekan” atau “olok-olok”, “kalau bisa dipersulit kenapa mesti dipermudah”. Padahal kata Rasulullah SAW, “tolonglah dan mudahkanlah orang lain, maka Allah akan menolong dan memudahkanmu”.

Laksana kaca cermin, puasa Ramadhan adalah proses untuk membersihkan kotoran dan debu yang menempel di kaca cermin kita itu. Jika selama setahun kita tidak pernah bersihkan dan sucikan, maka ia tidak lagi mampu mencerminkan diri kita dengan kebeningan, akan tetapi yang tampak adalah wajah buruk cermin itu ke wajah kita.

Karena itu, marilah di sisa puasa yang belum selesai, kita sempurnakan agar hati kita masih bisa lebih disucikan lagi. Jika Allah menegaskan dalam QS. Al-Baqarah : 186 “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, (katakanlah) maka sesungguhnya Aku (sangat) dekat. Aku akan menjawab permohonan (hamba-Ku) yang berdoa, apabila mereka berdoa memohon kepada-Ku”, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. 

Perintah Allah “Apabila mereka berdoa kepada-Ku” adalah perintah kepada kita sebagai hamba-hamba yang rendah hati, tidak sombong, berhati bening, tidak angkuh, dan sifat atau perilaku gede hati lainnya. Karena itu, marilah kita berikhtiar dan berdoa memohon kepada Allah, agar dengan kita berpuasa mampu menjadikan hati kita bening kembali. Hati ini yang menjadi imam dari selurun anggota tubuh kita. Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan kita dalam Alqur’an:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (QS. Al-A’raf: 179).

Allah SWT memberi kesempatan kepada kita supaya bisa menjadi hamba-hamba yang baik, yang pandai bersyukur, dan memiliki hati yang bening. Agar kita mampu menjaganya dari berbagai kotoran, debu, dan dosa-dosa baik dosa vertikal antara hamba kepada Sang Khaliq, maupun dosa-dosa sesama hamba, karena kesombongan, irihati, keserakahan, pamer diri, dan menyimpan dendam kepada orang lain.

Meskipun rata-rata kita sudah hafal syair tombo ati yang dikarang oleh Sunan Kalijaga, tetapi tidak ada salahnya kita renungi dan resapi kembali guna menyempurnakan ibadah puasa kita.

Tombo ati iku limo ing wernane, moco Qur’an lan maknane. Kaping pindo sholat wengi lakonono, kaping telu wong kang sholeh kumpulono. Kaping papat kudu weteng ingkang luwe, kaping limo dzikir wengi ingkang suwe. 

Obat hati ada lima perkara, pertama, membaca Alqur’an dan meresapi maknanya. Kedua, menjalankan shalat malam, tahajjud, dan qiyamullail, ketiga, berteman atau berkumpul dengan orang-orang yang shalih. Keempat, perbanyak berpuasa. Dan kelima, dzikir, mujahadah, dan bermunajat di waktu malam yang lama.

Allah Rabbu l-Ardli wa s-samawat menjelaskan:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Dan sesungguhnya Allah menyesakan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya” (QS. Ar-Ra’du: 27).

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’du: 28).

Mari kita perbanyak dzikir dan munajat kepada Allah, agar di akhir bukan Ramadhan ini kita diberi kemampuan oleh Allah untuk senantiasa berdzikir ingat Allah,  kebesaran, kemurahan, kasih dan sayang-Nya kepada kita yang tak terbatas, agar hati kita mendapatkan kebeningan hati yang mampu menjadi penyuluh, pelita penerang kita, agar bisa mengikuti rambu dan jalan lurus yang ditunjukkan oleh Allah.

اللهم انا نسئلك رضاك والجنة ونعوذ بك من سخطك والنار اللهم انك عفو كريم تحب العفو فاعف عنا يا كريم تقبل الله منا ومنكم تقبل يا كريم

Allah a’lam bi sh-shawab.

*) Penulis adalah Wakil Ketua PCNU Bandar Lampung/Dosen UIN Lampung

Beritahu temanmu dengan membagikannyaShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on TumblrShare on VKShare on YummlyShare on StumbleUponShare on RedditPin on PinterestEmail this to someoneDigg this