foto net

Mudik Lebaran Akulturasi Nilai – Nilai Islam dan Budaya Nusantara

oleh: Abdul Aziz M.Pd.I (Wakil Sekretaris PCNU Badar Lampung, sekretaris MUI Kota Bandar Lampung)

Ramadhan akhir, memasuki sepertiga akhir bulan ramadhan, menjelang lebaran, geliat arus mudik sudah sangat terasa sekali, motor dan mobil memenuhi bengkel, tempat dan lokasi service, ticket kereta, kapal dan pesawat ludes, pun juga rental mobil habis terbocking. Supermall penuh, pasar swalayan penuh, pasar tempel penuh, yang terasa agak longgar hanya saf sholat tarawih, he he he.

Semakin mendekati lebaran, jalanan semakin macet, orang jubel dimana – mana, bandara, terminal, stasiun, supermall hingga pasar tempel, ada pergerakan orang, barang dan finansial yang terstruktur, sistematis dan masif (TSM) luar biasa, yang seperti ini hanya terjadi di sini di Indonesia.

Bawaan demi bawaan, ditenteng, dijinjing, dikempit, digendong bahkan dipanggul, ada juga yang ditaruh diatas kepala, keringat bercucuran, terseok – seok, umpel – umpelan, ngantri, macet, semua tidak berarti apa – apa, demi sebuah momentum keberagamaan dan kebudayaan sekaligus kebahagiaan yang tak terhitung dan tak terukur, Mudik – Lebaran.

Ketika sudah dikampung halaman masing – masing, kita diperhadapkan dan terlibat aktif didalamnya, sebuah konstruksi fenomena sosial keagamaan yang unik dan khas nusantara, masyarakat mempersepsikannya sebagai tradisi keagamaan, dan ini hanya ada di nusantara, yaaa ,,,, Islam di Nusantara.

Ada khataman Al Qur’an ditutup dengan buka puasa bersama, ada tadarus setelah tarawih dengan aneka hidangan, megengan, kenduri/riuangan/kauman/konjengan, ziarah kubur/nyadran/nyekar/tabur bunga, habis sholat Ied dilanjutkan dengan salam – salaman, pulang dari masjid ada tradisi sungkeman, reuni keluarga, shilaturrahim dengan tetangga (dengan hidangan khasnya, kueh lebaran dan opor ayam-ketupat-sambel goreng), halal bihalal dan sebagainya dan seterusnya, tujuh hari berlebaran-pun serasa belum cukup.

Jelas fenomena keberagamaan dan kebudayaan yang sudah mendarah daging dan berurat berakat ini tidak instan, ada proses “dialektika” dan “akulturasi” (antara Nilai – Nilai Islam dengan Budaya Nusantara) yang panjang, lahirnya idiom ke-Islaman, yang kalau dilacak tidak berakar pada budaya nusantara pra-Islam, pun juga tidak berasal dari bumi arab, adalah contoh nyata dan tak terbantahkan, yang akhir – akhir ini mulai digugat, dibully, dilecehkan, dinyinyiri, bahkan diserang dan dihantam dengan “mesiu” bid’ah-kafir-musrik.

Sebuah tafsir kreatif – genuin keberagamaan oleh anak bangsa kedalam budayanya, karena di arabpun, ketika Islam menginjakkan kaki dan mulai melangkah juga banyak berbalut budaya arabism, kejelian dan kecerdasan dalam melihat, menganalisa dan memilah, mana yang “ajaran” mana yang “budaya”, mana yang intrinsik mana yang instrumental, yang tidak sakral jangan disakralkan, yang sakral jangan di desakralisasi.

Jutaan manusia melakukan perjalanan dan merawat peradabannya, melintasi waktu menuju kemanusiaannya, Meninggalkan kota-kota kecil dan besar (jantung dan denyut nadi kapitalism dan materialism), walau hanya sejenak, kapitalism dan materialism telah banyak merenggut kemanusiaan, semua serba materialistis, terukur dan terhitung, berkejaran dengan waktu, disibukkan oleh kebutuhan dan kepentingan yg tak berkesudahan, individualisasi, menipisnya rasa empati dan kasih sayang.

Dengan ritual mudik, lebaran dan halal bihalal dengan semua pernak – pernik budayanya, mereka yang hanya dihitung sebagai angka dan skrup kecil dalam mesin raksasa peradaban kapitalism dan materialism, ingin kembali diperlakukan sebagai manusia.

Mengungkapkan kembali perasaan kekeluargaannya, bersimpuh dihadapan orang tuannya, atau bahkan hanya sekedar ingin bersimpuh di pusarannya. Memohon maaf seraya meneteskan air mata, pada orang tua, pada suami/istri, sudara, handai taulan, kerabat, tetangga, kawan, sahabat, hingga pesaing bisnis (yang biasa saling memeras dan menerkam), menjadi sangat cair dan penuh hikmah. Sungguh, lebaran, mudik dan halal bihalal telah menjadi terapi kemanusiaan.