IMG-20181007-WA0000

Merenungi Gempa Bumi, Tsunami dan Gunung Merapi

Merenungi Gempa Bumi, Tsunami dan Gunung Merapi

Oleh: Rudy Irawan

KITA sadari atau tidak, tak pantas rasanya sebagai hamba Allah yang dikaruniai akal, namun kita  tidak merenung dan melakukan introspeksi diri atas berbagai kejadian alam yang memakan kurban, baik nyawa, materi,  dan rasa nyaman.

Saudara kita di Nusa Tenggara Barat, secara bertubi-tubi dan berhari-hari diguncang gempa bumi, yang memporak-porandakan rumah dan bangunan lainnya.

NTB belum juga sepenuhnya teratasi, saudara kita di Palu dan Donggala dihajar gempa  bumi dalam skala 7,7 dan 7,4 skala richter (SR) dan diikuti tsunami yang memporak-porandakan bumi Sulawesi Tengah dan memakan korban yang hingga saat ini belum semua korban bisa dievakuasi.

Baru saja warga yang menjadi korban gempa bumi dan tsunami menanti uluran bantuan, kita tersentak dikagetkan “fenomena” dan prilaku yang aneh dan tidak biasa, yakni “penjarahan” barang-barang di mall, di mobil, bahkan relawan yang membawa bantuan pun, belum sempat didistribusikan sudah habis dijarah.

Tentu munculnya aksi-aksi “menjarah” jika ini benar, sungguh sangat disayangkan dan disesalkan. Selain tidak ada dasar hukum yang membolehkannya, juga kasihan warga Palu dan Donggala yang terkena musibah, harus menambah penderitaan, terkena “sangkaan” sebagai “penjarah”. Padahal yang melakukannya belum tentu mereka. Ada dugaan, mereka itu dari luar. Allah a’lam.

Pertanyaannya, bagaimana kita menyikapi rentetan peristiwa alam tersebut? Apakah serangkaian peristiwa alam tersebut di atas, hanyalah semata-mata peristiwa alam biasa, ataukah bentuk peringatan atau warning dari Allah ‘Azza wa Jalla kepada hamba-hamba-Nya, karena ada sebagian yang cenderung “mengumbar” maksiat, dan sering muncul ketidakadilan yang terjadi. Bahkan banyak yang terkena operasi tangkap tangan (OTT) baik dari “oknum” pejabat eksekutif, legislatif, dan lebih menyedihkan lagi oleh “oknum” pejabat yudikatif.

Apakah berbagai peristiwa alam tersebut merupakan bentuk teguran, ujian, cobaan, atau bahkan adzab yang diturunkan oleh Allah untuk menegur atau mengingatkan manusia yang sebagiannya banyak melakukan prilaku membangkang dari rambu-rambu ajaran agama-Nya.

Tentu dibutuhkan sikap arif dalam menjawabnya. Yang miris dan menyedihkan juga, ada yang seakan-akan tokoh agama mengatakan bahwa gempa dan tsunami adalah balasan atau “hukuman” langsung dari Allah, gegara aparat menjadikan “seseorang” sebagai tersangka. Sampai-sampai ia melakukan mubahalah dengan menempatkan kepala di bawah Mushhaf Al-Qur’an. Statemen tersebut, jika benar, rawan ditafsirkan sebagai “provokasi” yang memicu kegalauan dan ketidaknyamanan warga Palu dan Donggala khususnya dan saudara-saudara kita yang terkena gempa bumi.

Marilah kita bersikap arif dan bijaksana. Manusia tidak ada yang mengetahui secara persis apa yang menjadi rahasia dan kehendak-Nya. Kita diberi pelajaran berharga oleh Allah dalam Al-Qur’an tentang berbagai kejadian alam, yang secara eksplisit dijelaskan secara eksplisit. Pengalaman sejarah tersebut bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita, agar kita senantiasa melakukan mawasdiri, introspeksi diri, dan muhasabah guna memperbaiki diri dan akhlaq kita.

Allah ‘Azza wa Jalla menegaskan, bahwa dalam “penciptaan langit dan bumi, peredaran malam dan siang, adalah merupakan tanda-tanda – fenomena, gambaran nyata – akan kemahabesaran Allah (kekuasaan dan kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berfikir (tafakkur, merenung, dan berkontemplasi). Karena tidak ada ciptaan Allah yang diciptakan sia-sia (AS. Ali Imran: 58).

Allah juga menegaskan, bahwa : “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati, Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” (QS. Al-Anbiya’: 35).

Pada ayat 41 Allah tegaskan “Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa orang rasul sebelum kamu maka turunlah kepada orang yang mencemoohkan rasul-rasul itu adzab yang selalu mereka perolok-olokkan”.

Illustrasi tersebut menunjukkan bahwa peristiwa alam, apakah itu gempa bumi, tsunami, dan gunung meletus, secara saintifik bisa dilihat sebagai fenomena alam. Akan tetapi tidak ada peristiwa apapun di muka bumi ini terjadi, tanpa sepengetahuan Allah dan kehendak-Nya.

Ujian yang diberikan oleh Allah kepada manusia memang tidak selalu berbentuk keburukan saja, akan tetapi juga berbentuk kebaikan, kenikmatan, dan berbagai kelebihan lainnya. Ada juga ujian atau musibah yang Allah turunkan kepada manusia, karena Allah menyayangi hamba-hamba-Nya, sebelum terlalu jauh menambah dosa-dosanya.

Setidaknya kita bisa belajar dari pengalaman warga negeri Saba, yang dulunya dikenal beriman dan bertaqwa serta taat kepada Allah, lalu Allah melimpahkan keberkahan dan kemakmuran yang digambarkan sebagai negeri gemah ripah loh jinawi tata tenterem kerta raharja, baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur:

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu rizki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun” (QS. Saba:15).

Ayat berikutnya menjelaskan “tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr” (QS. Saba: 16).

Pelajaran yang lain kita bisa ambil dari kisah kaum Nabi Luth as yang tidak mau mengikuti ajakan dan usaha Nabi Luth as yang menyediakan putri-putrinya (untuk dinikahinya), akan tetapi mereka menolaknya, karena mereka memilih yang sesama laki-laki alias homoseks. Memperhatikan situasi demikian, Allah mengutus para malaikat untuk mengabarkan kepada Nabi Luth as agar pergi meninggalkan tempat bersama seluruh keluarganya. Simak ayat berikut ini:

قَالُوا يَا لُوطُ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَن يَصِلُوا إِلَيْكَ ۖ فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِّنَ اللَّيْلِ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنكُمْ أَحَدٌ إِلَّا امْرَأَتَكَ ۖ إِنَّهُ مُصِيبُهَا مَا أَصَابَهُمْ ۚ إِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ ۚ أَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيبٍ

Para utusan (malaikat) berkata: “Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorang pun di antara kamu yang tertinggal, kecuali isterimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa adzab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya adzab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?”  (QS. Hud:81).

Saya tidak bermaksud menyimpulkan bahwa berbagai peristiwa bencana, gempa bumi, tsunami,  gunung meletus, adalah adzab atau siksaan akibat ulah manusia yang ingkar kepada ajaran Allah. Akan tetapi tidak ada peristiwa di muka bumi dan di alam ini bisa terjadi tanpa sepengetahuan dan kehendak Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan dalam QS. Al-Hadid: 22:

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ –

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melakukan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfudh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”.

Akhirnya, marilah kita renungkan dan muhasabah selagi kita masih diberi kesadaran oleh Allah. Karena kita hidup di dunia ini, ketika Allah menciptakan kita, perjanjian kita dengan Allah, adalah untuk mengabdi kepada-Nya (QS. Adz-Dzariyat:56).

Berbagai peristiwa alam, oleh Allah, memang sudah diberikan hukum alamnya sendiri yang disebut dengan sunnatullah (natural law), karena bagi Allah, jika menghendaki sesuatu terjadi, berfirman “Jadilah, maka terjadi” (kun fa yakun).

Semoga kita senantiasa ditolong oleh Allah, makin rendah hati, tawadlu’, dan melakukan muhasabah agar di sisa umur kita, bermanfaat bagi orang banyak, agama, nusa dan bangsa.

Mari kita buang jauh-jauh segala macam bentuk keangkuhan dan sikap sombong di hadapan Allah dan manusia. Mari kita bantu saudara-saudara kita,  mudah-mudahan Allah mencatat mereka yang menjadi kurban bencana,  sebagai hamba pilihan-Nya.  Amin.

*) Penulis adalah Wakil Ketua PCNU Bandar Lampung/Dosen UIN Raden Intan Lampung

Beritahu temanmu dengan membagikannyaShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on TumblrShare on VKShare on YummlyShare on StumbleUponShare on RedditPin on PinterestEmail this to someoneDigg this