obat_tetes_mata_pembatal_puasa

Menggunakan Obat Tetes Mata Saat Berpuasa, Bagaimana Hukumnya?

Apakah membatalkan puasa di bulan Ramadhan jika mengalami sakit mata dan mengobatinya menggunakan obat tetes mata. Dan Mohon penjelasannya tentang tindakan medis yang dapat membatalkan puasa, terimakasih.

Pengirim: 0857797474xx

Jawab :
Para ulama telah menetapkan beberapa kriteria yang dapat membatalkan puasa, yaitu:
1. Adanya sesuatu yang masuk (ke dalam tubuh), bukan sebab sesuatu yang keluar (dari tubuh). Yang menjadi patokan adalah sampainya sesuatu ke dalam perut atau otak melalui lubang asli, seperti mulut, hidung, telinga, dan dubur.

2. Adanya bentuk kegiatan makan sekalipun yang dimakan kerikil, biji, kayu, rumput, atau yang sejenisnya.

3. Adanya makna jima’ seperti menggauli isterinya, atau keluar seperma yang di sebabkan bercumbu dengan istrinya.

Berdasarkan kriteria di atas, bisa di pahami sebuah hukum tentang beberapa tindakan medis yang dapat membatalkan puasa dan tidak membatakan, sebagian dari hukum tersebut adalah:
1. Meneteskan obat tetes ke mata tidak membatalkan puasa, karena tidak ada lubang penghubung antara mata, perut, dan otak. (Al-Kasani, Bada’ius Shana’i, juz 2, halaman 92)

2. Meneteskan obat ke dalam telinga dan hidung dapat membatalkan puasa, sebab keduanya merupakan lubang terbuka.

3. Menggunakan obat semprot asma (asthma spray) dan inhaler. Asthma spray merupakan obat yang disemprotkan ke dalam mulut ketika seseorang terkena asma. Sedangkan inhaler adalah alat untuk mengalirkan obat langsung ke paru–paru. Penggunaan metode pengobatan ini membatalkan puasa, sebab obat tersebut masuk ke tenggorokan kemudian ke dalam perut.

4. Menghirup oksigen. Seseorang yang terkena asma kadang diberi oksigen. Oksigen hanyalah berupa udara, sehingga hukumnya sama seperti bernapas, yaitu tidak membatalkan puasa, kecuali jika oksigen tersebut dicampur dengan obat.

5. Donor darah. Hukum donor darah sama seperti bekam, yaitu tidak membatalkan puasa, sebab puasa batal karena masuknya sesuatu ke dalam tubuh melalui lobang terbuka.

Referensi:
Al-Kasani, Bada’ius Shana’i, juz 2, halaman 92:

العِبْرَةُ بِالْوُصُوْلِ إِلَى الْجَوْفِ أَوِ الدِّمَاغِ مِنَ الْمَخَارِقِ الْأَصْلِيَّةِ، كَالْأَنْفِ وَالْأُذُنِ وَالدُّبُرِ
Imam Nawawi, Raudhatut Thalibin, juz 2, halaman 356)
وُجُوْدُ الْأَكْلِ صُوْرَةً يَكْفِيْ لِفَسَادِ الصَّوْمِ، حَتَّى لَوْ أَكَلَ حَصَاةً أَوْ نُوَاةً أَوْ خَشَبًا أَوْ حَشِيْشًا أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ مِمَّا لَا يُؤْكَلُ عَادَةً وَلَا يَحْصُلُ بِهِ قَوَامُ الْبَدَنِ، يُفْسِدُ الصَّوْمَ
Nawawi, Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, juz 6, halaman 315)

وُجُوْدُ الْجِمَاعِ مِنْ حَيْثُ الْمَعْنَى كَافٍ لِفَسَادِ الصَّوْمِ، حَتَّى لَوْ جَامَعَ امْرَأَتَهُ فِيْمَا دُوْنَ الْفَرْجِ فَأَنْزَلَ، أَوْ بَاشَرَهَا أَوْ قَبَّلَهَا أَوْ لَمِسَهَا بِشَهْوَةٍ فَأَنْزَلَ، يَفْسُدُ صَوْمُهُ
Al-Syairozi, Al-Tanbih, juz 1, halaman 66)

وُصُوْلُ أَثَرِ الشَّيْءِ لَا عَيْنِهِ إِلَى الْحَلَقِ لَا يُفْسِدُ الصَّوْمَ

Al hawi kabir juz 3 halaman 456
قال الشافعي رضي الله عنه وَإِنْ بَلَعَ حَصَاةً أَوْ مَا لَيْسَ بِطَعَامٍ أَوِ احْتَقَنَ أَوْ دَاوَى جُرْحَهُ حَتَّى يَصِلَ إِلَى جَوْفِهِ أَوِ اسْتَعَطَّ حَتَّى يَصِلَ إِلَى جَوْفِ رَأْسِهِ فَقَدْ أَفْطَرَ، إِنْ كَانَ ذَاكِرًا وَلَا شَيْءَ عَلَيْهِ إِذَا كَانَ نَاسِيًا

(Jawaban oleh KH.Munawir Ketua LBM NU Lampung)