22688076_1983706135209043_5686923457882115484_n

Memahami Perbedaan Pendapat

Oleh: H Suparman Abdul Karim

(Ketua LDNU Lampung)

 

Perpecahan Itu Dilarang

Islam mengharamkan perpecahan, sampai-sampai Rasulullah SAW melarang kita membaca Al-Qur’an kalau hanya untuk dipertentangkan makna dan penafsirannya. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Jundah bin Abdullah bahwa Nabi SAW bersabda: “Bacalah Al-Qur’an selama bacaan itu dapat menyatukan hati kalian, tetapi jika kalian berselisih, hentikanlah bacaan itu” (H.R. Bukhari dan Muslim, al-Lu’lu’ wal-Marjan, no. 91706). Maksudnya pergi dan bubarlah kalian jangan berlarut-larut dalam pertentangan dan perselisihan.

Rasulullah SAW mengingatkan: “Telah menjangkiti kalian penyakit umat-umat terdahulu sebelum sebelum kalian (yakni): Kedengkian dan Permusuhan. Permusuhan adalah pencukur. Aku tidak mengatakan pencukur rambut, tetapi pencukur agama. Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak akan (dianggap) beriman hingga kalian saling mencintai (sesama muslim)” (Sunan at-Tirmidzî, no. 2510; dan Musnad Ahmad, no. 1338).

Nabi SAW mengemukakan bahwa saling mendengki yang berhujung pada saling manyalahkan dan bahkan permusuhan adalah sifat dan karakter dasar umat terdahulu sebelum Islam (Yahudi dan Nashrani). Sayangnya tanpa disadari hal ini lambat laun telah menjangkiti umat Islam. Selain karena saling mendengki, sebab lainnya karena mereka merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka masing masing. Ia merasa pemahaman ke-islaman-nyalah yang paling “shahih”, sehingga ia berkepentingan untuk menyalahkan yang lainnya. Ingatlah firman Allah SWT yang artinya: “Sesungguhnya (agama Tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, Maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)” (Q.S. Al-Mukminun: 52-53).

Perbedaan Pendapat Itu Wajar

Berbeda pendapat adalah suatu kewajaran. Bahkan Syaikh Yusuf al-Qardhawi mengungkapkan bahwa “Perbedaan pendapat adalah kekayaan (Tsarwah)”. Jika bergini cara kita memahami perbedaan maka secara otomatis akan melahirkan sikap yang dewasa, toleran dan saling menghargai sesama muslim. Namun, pada kenyataannya perbedaan ini menjadi batu ujian terhadap eksistensi ukhuwwah kita. Terutama jika berbagai perbedaan ini direspon secara ekstrem dan hanya menuntut kebenaran sepihak.

Padahal berbagai perbedaan di tengah-tengah umat Islam ini hanya terjadi pada persoalan-persoalan furu’ (masalah-masalah cabang) dan tidak dalam masalah-masalah ushul (pokok). Realitas perbedaan ini telah terjadi sejak masa Sahabât, Tâbi’în dan para ulama Muta’akhirîn maupun Mutaqaddimîn. Mereka memandang perbedaan pendapat ini sebagai pilihan dan sebagai keringanan (rukhshoh). Sehingga mereka tidak perlu berdebat atau saling menyalahkan. Khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz pernah mengungkapkan: “Saya tidak senang kalau para Sahabat Rasulullah SAW itu tidak berbeda pendapat. Seandainya mereka tidak berbeda pendapat, niscaya tidak ada rukhshoh (keringanan untuk memilih) bagi kita” (Diriwayatkan oleh Imâm Al-Baihâqî dalam al-Madkhal; Faidhul Qadîr, Juz 1, hlm. 209; dan Jâmi’ Bayânil ‘Ilmi, Juz 2, hlm. 80).

Memahami Perbedaan

Sikap yang sangat dibutuhkan sekarang adalah cara kita memahami perbedaan. Yang dapat memunculkan malapetaka adalah sikap yang memaksakan keseragaman dan tidak mau memperdulikan perbedaan pendapat. Bisa ditebak untuk menolak pendapat orang lain ia akan menggunakan senjata saling mengkafirkan, saling membid’ahkan atau saling memvonis sesat. Terkadang lisan ini menjadi latah untuk “terburu-buru” menuduh orang lain mengikuti hawa nafsu, tidak jujur atau membodohi umat.

Ingatlah selalu bahwa perbedaan dalam masalah Fikih telah terjadi sejak masa para imam panutan kita, Imam Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Tsauri dan yang lainnya. Tetapi mereka tidak memandang perbedaan itu sebagai sesuatu yang picik. Masing-masing mereka tidak ada yang berusaha memaksakan pendapatnya kepada orang lain dan tidak pula melecehkan orang yang berbeda pendapat dengan mereka. Sebagai salah satu contoh, Khalifah Al-Mansyur pernah berkata kepada Imam Malik, “Aku punya niat untuk menyalin kitab yang telah engkau susun (Kitab Al-Muwaththa’), kemudian aku kirimkan kitab itu keseluruh negeri kaum muslimin agar mereka mengamalkannya dan tidak mengikuti yang lainnya”. Imam Malik kemudian menjawab: “Wahai Amirul Mukminin, janganlah engkau lakukan tindakan itu karena perbedaan pendapat telah terlebih dahulu sampai kepada mereka. Mereka telah mendengar banyak hadits dan meriwayatkannya. Setiap kaum telah mengikuti apa yang terlebih dahulu sampai kepada mereka dan menyampaikannya pada beraneka ragam manusia. Karenanya, biarkanlah mereka memilih sendiri” (Hujjatullâh al-Balîghah, Juz 1, hlm. 145).

Perpecahan Adalah Ujian Keimanan

Kami menyebutkan bahwa “Perpecahan adalah ujian keimanan”. Maksudnya apabila umat ini terjebak dalam perpecahan, kemudian diantara mereka ada orang-orang yang mengupayakan persatuan, saling memahami dan saling toleransi, maka semakin meningkat keimanan mereka. Tetapi apabila diantara mereka ada yang justeru lebih asyik untuk saling menyalahkan dan mencari-cari kelemahan masing-masing, maka rusaklah keimanan mereka.

Untuk itu renungilah riwayat berikut ini, bahwa Imam Ahmad meriwayatkan dari Khabbab bin Arit, “Aku pernah menyertai Rasulullah SAW shalat semalam penuh. Setelah fajar beliau mengakhiri shalatnya, lalu aku bertanya, “Wahai Rasulullah, pada malam ini, engkau melakukan shalat tidak seperti hari-hari biasanya?”, Rasulullah SAW kemudian menjawab: “Ya, itulah shalat permohonan sekaligus keprihatinan. Dalam shalat tadi, aku meminta kepada Allah tiga hal, lalu Dia mengabulkan dua hal dan menolak satu hal. (Pertama) Aku meminta kepada Allah agar tidak membinasakan kita dengan bencana (alam) seperti yang pernah ditimpakan kepada kaum sebelum kita, lalu Dia mengabulkannya. (Kedua) Aku meminta kepada Allah agar tidak menguasakan kepada kita musuh dari selain kita, lalu Dia mengabulkannya. Dan (Ketiga) aku meminta kepada Allah agar perpecahan tidak menimpa kita (umat Islam), tetapi Allah tidak mengabulkannya” (Musnad Ahmad, no. 1434, 1490; Shahih Muslim, no. 2890; lihat Tafsir Ibnu Katsir, Juz 3, hlm. 195).

Mengapa yang ketiga tidak dikabulkan?, Karena hal itu sebagai ujian keimanan. (Wallâhu a’lam bish-shawâb).

Beritahu temanmu dengan membagikannyaShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on TumblrShare on VKShare on YummlyShare on StumbleUponShare on RedditPin on PinterestEmail this to someoneDigg this