IMG-20190621-WA0021

Manusia, Etape, dan Siklus Hidup

Oleh: Rudy Irawan*

Kata ulama bijak, dalam perjalanan atau etape hidup ini hanya ada tiga, hari kemarin, hari ini, dan hari esok. Hari kemarin, adalah yang paling jauh, karena ia sudah menjadi masa lalu. Kita tidak akan mungkin kembali, layaknya seperti sinetron si “lorong waktu”. Meskipun demikian, bukan berarti tidak ada manfaatnya. Allah mengingatkan kita untuk senantiasa memperhatikan hal-hal yang sudah terjadi di masa lampau, agar kita bisa merancang masa depan kita (QS. Al-Hasyr (59): 18).
Orang bijak mengatakan, “pengalaman adalah guru yang paling baik” atau “experience is the best teacher”. Bung Karno bilang “Jas merah” atau “jangan melupakan sejarah”. Jika Anda mengendara mobil atau motor, diperlukan spion, untuk melihat situasi yang di belakang kita, bahkan mobil penumpang selain spion kanan dan kiri, juga di tengah. Ini karena dalam hidup dan kehidupan kita, tidak bisa sampai di sini, dalam keadaan sekarang ini, tanpa melalui masa lalu kita.
Pertanyaannya adalah, apakah arah yang kita jalani ini sudah benar menurut rencana dari masa lalu kita, ataukah dalam posisi “sesat” dan di luar rencana, yang sering dikatakan “tersesat di jalan yang benar”, ataukah kita berada di jalan yang benar dan lurus. Apakah ada yang Anda sesali dari posisi dan keadaan Anda sekarang ini? Karena sesal selalu terjadi di kemudian hari, dan sesal atau penyesalan itu pasti tiada guna, apalagi larut dalam penyesalan.
Hari ini, detik ini, kita masih berada di saat kita sedang menghiasi lembaran kertas putih kita, apakah kita akan menulisi atau melukis hiasan kaligrafi indah yang sudah kita tulis dan lukis tempo hari? Atau hari ini kita membuat tulisan dan lukisan yang baru? Yang pasti kita harapkan menjadi torehan emas, yang menjadikan hidup hari ini lebih indah dari hari kemarin.
Rasulullah saw mengingatkan, “barangsiapa hari ini-nya, lebih baik dari hari kemarin, maka dia adalah orang yang beruntung (rabih), barangsiapa hari ini-nya sama dengan hari kemarin, maka dia adalah orang yang merugi (khasir), dan barangsiapa hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka dialah orang yang tertipu (maghbun)” (Riwayat al-Hakim).
Marilah kita berusaha atau berikhtiar sesuai dengan kapasitas dan profesi kita masing-masing untuk terus berbuat kebaikan yang bermanfaat bagi kita dan orang lain. Melalui ikhtiar itu, kita punya deposit untuk menjadi manusia yang terbaik. Karena ukuran jati diri seseorang itu dinyatakan baik, adalah mana yang paling banyak memberikan manfaat pada orang lain.
Ukuran kebaikan seseorang tidak ditentukan oleh banyaknya ilmu dan gelar, banyaknya harta, dan berjajarnya pengalaman jabatan yang disandang atau diembannya. Kemuliaan seseorang hanyalah diukur dengan ketaqwaannya. Kebaikan seseorang dilihat dari seberapa banyak ia memberi manfaat pada orang lain, apakah itu ilmu yang diajar atau dibagikannya pada orang lain, hartanya seberapa banyak diinfak atau sedekahkan pada orang lain yang membutuhkannya, dan jabatannya untuk apa diabdikan?
Tidak sedikit dari sebagian saudara kita, yang bergelimang ilmu, bertumpuk harta, dan juga deretan jabatan, yang karena tidak tahan godaan dan cobaan, ia terjebak dalam keangkaramurkaan dan kemaksiyatan, kesombongan, dan kedigdayaan yang memporakporandakan dirinya dalam kubangan kesesatan yang nyata. Namun tidak sedikit, dari saudara kita yang sudah terpenuhi segala angan, cita, dan tujuan hidupnya, namun dia senantiasa berada di jalan-Nya yang lurus, ash-shiratha l-mustaqim dan hidup istiqamah di bawah siramah kesejukan anugerah dan kasih sayang-Nya.
Sebagai hamba dan manusia biasa, yang baik adalah, selain berikhtiar untuk terus menjaga, merawat, dan bahkan memupuk keimanan, keislaman, dan kebaikan (ihsan) untuk dapat terus dalam sikap keistiqamahan. Sudah barang tentu godaan dan ujiannya berat. Karena berat itulah, jaminannya adalah kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. Kebahagiaan dan keistiqamahan hidup, tidak selalu berbanding lurus dengan keberlimpahan harta dan jabatan.
Kebahagiaan dan kekayaan, kata Rasulullah saw, adalah manakala seseorang dapat merasakan cukup, qanaah, dan ridha, serta ikhlas menerima apa yang menjadi pemberian dan kehendak Allah Rabbu s-samawat wa l-ardl, yang telah menyediakan dan mencukupi segala kebutuhan manusia. Keinginan manusia tentu berbeda dengan kebutuhan. Karena jatah rizqi masing-masing hamba sudah diatur dan didistribusikannya secara adil dan proporsional, sesuai dengan kapasitas dan kompetensinya.
Siklus kehidupan manusia, juga sudah diatur, dari tidak ada, dilahirkan menjadi ada, tumbuh berkembang menjadi remaja, memasuki masa tua, lanjut usia, dan pada gilirannya akan kembali ke haribaan-Nya. Meskipun yang terakhir ini, tidak ada kamus baku, kapan manusia harus kembali memenuhi panggilan-Nya. Marilah kita terus berusaha menjadi hamba yang terbaik, yang memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain. Semoga Allah memberi kita umur panjang dan banyak amal shaleh kita. Amin.
Allah a’lam bi sh-shawab. Ihdina sh-shiratha l-mustaqim.

*Dosen UIN raden Intan
Wakil Ketua PCNU kota Bandarlampung
Sekretaris Komisi Seni Budaya Islam MUI Lampung