gusdur

Manakib Gus Dur, Mengenang Sewindu Haul

Oleh : Muhammad Candra Syahputra(Aktivis PMII Tarbiyah Komisariat Raden Intan)

 

            Sewindu sudah sang guru bangsa itu pulang, sosoknya yang sederhana menjadikan dirinya sangat disegani, baik dari kalangan NU, ormas Islam yang lain maupun lintas agama. Untuk mengenang beliau, ku persembahkan manakib ini.

Riwayat Kelahiran dan Keluarga

Nama  kecil  Gus Dur adalah Abdurrahman Ad-Dakhil yang berarti “Sang Penakluk”. Sebuah nama yang diambil oleh ayahnya dari nama seorang perintis Dinasti Umayyah di Spanyol. Banyak sumber yang menyebutkan Gus Dur lahir pada 4 Agustus 1940. Tetapi dalam buku Aboe Bakar Atjeh menyebutkan tanggal 4 Juli 1939. Hampir bersamaan dengan itu, Nyai Nafiqah, Istri Kiai Hasyim Asy’ari, meninggal dunia di Tebuireng.

Dari garis bapak, dia adalah putra KH. A. Wahid Hasyim, ulama perintis kemerdekaan, pahlawan nasional, dan Menteri Agama Republik Indonesia. Kiai Wahid adalah putra Hadratussyekh KH. M. Hasyim Asy’ari, pahlawan nasional pendiri Pesantren Tebuireng dan Nahdlatul Ulama (NU). Sedangkan dari garis ibu, Gus Dur adalah putra Ny. Hj. Sholichah Bisri. Nyai Sholichah adalah putri KH. Bisri Syansuri, ulama ahli fiqh, Rais ‘Aam PBNU, dan pendiri Pesantren Denanyar Jombang. Gus Dur juga masih memiliki hubungan darah (cucu) dengan Rais ‘Aam PBNU lainnya, KH. Abdul Wahab Hasbullah. Dengan demikian, Gus Dur merupakan cucu dari tiga ulama NU sekaligus; Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Bisri Syansuri, dan Kiai Wahab Hasbullah.

Dari pernikahannya dengan Sinta Nuriyah, mereka dikaruniai empat orang anak, yaitu Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zannuba Arifah Chafsoh, Annita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari.

 

 Pendidikan dan Karir

Sejak kecil Gus Dur tinggal di Pesantren Tebuireng karena sang ayah, Kiai Wahid Hasyim, adalah pengajar dan wakil pengasuh Pesantren Tebuireng. Sejak kecil Gus Dur di didik langsung oleh kakeknya, KH. Hasyim Asy’ari. Dia diajari mengaji dan pada usia lima tahun sudah lancar membaca Al-Qur’an.

Ketika ayahnya, Kiai Wahid Hasyim, terpilih menjadi Ketua Umum partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) pada tahun 1944, Gus Dur pindah ke Jakarta. Dia kembali ke Jombang pada tahun 1945 dan tetap berada di sana selama perang kemerdekaan melawan Belanda. Empat tahun kemudian, tepatnya pada akhir perang tahun 1949, Gus Dur pindah lagi ke Jakarta karena ayahnya ditunjuk sebagai Menteri Agama Pertama Republik Indonesia, selama berada di Jakarta, Gus Dur belajar di SD Kris, tak lama kemudian Gus Dur pindah ke SD Matraman Perwari. Gus Dur juga diajari membaca buku-buku non-muslim, majalah, dan koran oleh ayahnya untuk memperluas pengetahuan. Karya-karya yang dibaca tidak hanya cerita-cerita, utamanya cerita silat dan fiksi, akan tetapi juga wacana tentang filsafat dan dokumen-dokumen manca negara. Sejak usia 14 tahun, Gus Dur sudah berkaca mata. Ini menunjukkan bahwa beliau sangat suka membaca. Buku yang beliau baca cukup beragam, mulai buku ilmiah sampai buku fiksi, baik berbahasa Indonesia maupun Arab dan Inggris.

Tahun 1953, Gus Dur meneruskan belajarnya ke Yogyakarta dan masuk SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) Gowongan, sambil mondok di Pesantren Krapyak asuhan KH. Ali Maksum. SMEP adalah sekolah yang dikelola oleh Gereja Katolik Roma, akan terapi menggunakan kurikulum sekuler, di sekolah ini Gus Dur pertama kali belajar Bahasa Inggris. Tak lama tinggal di pesantren Krapyak, Gus Dur pindah ke rumah Haji Junaidi, seorang pimpinan lokal Muhammadiyah dan orang berpengaruh di SMEP.

Setelah tamat dari SMEP, tahun 1957 Gus Dur pindah ke Magelang untuk nyantri di Pesantren Tegalrejo asuhan KH. Chudlori, Gus Dur hanya butuh waktu dua tahun untuk menyelesaikan pendidikannya di sana, padahal santri lain harus menghabiskan waktu empat tahun. Setelah mendapat restu dari Kiai Chudlori, Gus Dur kembali ke tanah kelahirannya di Jombang, kali ini ia memilih pesantren Tambakberas untuk mencari ilmu. Kemampuannya terlihat lebih menonjol disbanding santri yang lain. Maka, di samping sebagai pelajar, Gus Dur juga mendapat amanat mengajar dantri junior dan juga sebagai kepala keamanan pondok. Di pesantren yang diasuh pamannya sendiri, yaitu KH. Abdul Fattah.

Di samping membaca, beliau juga hobi bermain bola, catur, dan musik. Bahkan, Gus Dur pernah diminta menjadi komentator sepak bola di televisi. Kegemaran lainnya yang ikut juga melengkapi hobinya adalah menonton bioskop. Kegemarannya ini menimbulkan apresiasi yang mendalam dalam dunia film. Inilah sebabnya Gus Dur pada tahun 1986-1987 diangkat sebagai juri Festival Film Indonesia.

Masa remaja Gus Dur sebagian besar dihabiskan di Yogyakarta dan Tegalrejo. Di dua tempat inilah pengembangan ilmu pengetahuan mulai meningkat. Masa berikutnya, Gus Dur tinggal di Jombang, di pesantren Tambak Beras, sampai kemudian melanjutkan studinya di Mesir. Kementrian Agama Republik Indonesia memberikan beasiswa kepada Gus Dur untuk melanjutkan studinya ke Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Kesempatan langka ini langsung diteruma oleh Gus Dur. Pada November 1963, Gus Dur berangkat pergi ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji dan diteruskan ke Mesir, saat itu Gus Dur berusia 22 tahun.

Tak puas mengarungi ilmu di Mesir, tahun 1966 Gus Dur melanjutkan rihlah ilmiahnya ke Irak. Di Irak, Gus Dur masuk memilih jurusan sastra Arab di Yniversitas Baghdad sampai tahun 1970, setelah berhasil meraih gelar Lc setingkat S1 di Indonesia, setelah menyelesaikan pendidikannya di Universitas Baghdad, tahun 1970 Gus Dur melanjutkan pendidikannya ke negara-negara Eropa. Negara pertama yang ia singgahi adalah Belanda, ia ingin belajar di Universitas Leiden, tetapi kecewa karena ijasahnya dari Universitas Baghdad kurang diakui. Di Belanda, Gus Dur menetap selama enam bulan. Ia sempat mendirikan Perkumpulan Pelajar Muslim Indonesia dan Malaysia yang tinggal di Eropa. Setelah dari Belanda, Gus Dur meneruskan pendidikannya ke Prancis.

Sepulang dari pengembaraannya mencari ilmu, Gus Dur kembali ke Jombang dan memilih menjadi guru. Pada tahun 1971, beliau bergabung di Fakultas Ushuluddin di Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang. Tiga tahun kemudian, beliau menjadi sekretaris pesantren Tebuireang, dan pada tahun yang sama, Gus Dur menjadi penulis. Beliau kembali menekuni bakatnya sebagai penulis dan kolumnis. Lewat tulisan-tulisan tersebut, gagasan pemikiran Gus Dur mulai mendapat perhatian banyak.

Pada tahun 1974, Gus Dur diminta pamannya, KH. Yusuf Hasyim untuk membantu di pesantren Tebuireng. Dari sini Gus Dur mulai sering mendapatkan undangan dari narasumber pada sejumlah forum diskusi keagamaan dan kepesantrenan, baik di dalam maupun luar negeri. Selanjutnya, Gus Dur terlibat dalam kegiatan LSM. Pertama, di LP3ES Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin, dan Adi Sasono dalam proyek pengembangan pesantren, kemudian Gus Dur mendirikan P3M yang dimotori oleh LP3ES.

Pada tahun 1979, Gus Dur pindah ke Jakarta. Mula-mula beliau merintis pesantren Ciganjur. Sementara, pada awal 1980, Gus Dur dipercaya sebagai wakil katib syuriyah PBNU. Di sini Gus Dur terlibat dalam diskusi dan perdebatan yang serius mengenai masalah agama, sosial, dan politik dengan berbagai kalangan lintas agama, suku, dan disiplin.Gus Dur semakin serius menulis dan bergelut dengan dunianya, baik di lapangan kebudayaan, politik, maupun pemikiran keislaman. Karier yang dianggap “menyimpang” dalam kapasitasnya sebagai seorang tokoh agama sekaligus pengurus PBNU dan mengundang cibiran adalah ketika menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahun 1983. Beliau juga menjadi ketua juri dalam Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1986 dan 1987.

Pada tahun 1984, Gus Dur dipilih secara aklamasi oleh sebuah ahl hall wa al-‘aqdi yang diketuai KH. As’ad Syamsul Arifin untuk menduduki jabatan ketua umum PBNU pada muktamar ke-27 di Situbondo. Jabatan tersebut kembali dikukuhkan pada muktamar ke-28 di pesantren Krapyak, Yogyakarta tahun 1989 dan muktamar di Cipasung, Jawa Barat tahun 1994. Jabatan ketua umum PBNU kemudian dilepas ketika Gus Dur menjabat Presiden RI ke-4. Selama menjadi Presiden, tidak sedikit pemikiran Gus Dur yang kontroversial. Pendapatnya sering berbeda dari banyak orang. Gus Dur meninggal pada hari Rabu, 30 Desember 2009 akibat kompilasi penyakit diabetes dan ginjal yang dideritanya.

Karya-karya Abdurrahman Wahid

Gus Dur adalah sosok cendekiawan yang banyak membuat tulisan-tulisan. Abuddin Nata menyatakan ada beberapa karya ilmiah yang ditulis Gus Dur berkaitan dengan gagasannya terhadap berbagai bidang maupun yang rangkum penulis lain. Karya-karya ilmiah tersebut antara lain :

Bunga rampai pesantren, Muslim di Tengah Pergumulan, Kiai Nyentrik membela Pemerintah,, Tuhan Tak Perlu Dibela, Prisma Pemikiran Abdurrahman Wahid, Mengurai hubungan agama dan Negara. Islamku, Islam anda, Islam kita, Islam Kosmopolitan.

Selain itu, terdapat pula beberapa buku yang membahas tentang pemikiran dan gagasan Gus Dur, yaitu buku yang berjudul Kiai mengugat Gus Dur Menjawab, Sebuah Pergumulan Wacana dan Transformasi, Tabayun Gus Dur, Islam, Negara dan Demokrasi:Himpunan Percikan Perenungan Gus Dur, Gus Dur Menjawab Tantangan Perubahan, Membangun Demokrasi, serta melawan Lelucon.

 

Sumber :

Ahmad Mubarok Yasin. 2010. Gus Dur Di Mata Keluarga dan Sahabat. Jombang: Pustaka Tebuireng.

Faisol. 2010. Gus Dur dan Pendidikan Islam. Yogyakarta: Arruz Media.

Abudin Nata. 2005. Tokoh-tokoh Pembaruan Pendidikan Islam Islam di Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Beritahu temanmu dengan membagikannyaShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on TumblrShare on VKShare on YummlyShare on StumbleUponShare on RedditPin on PinterestEmail this to someoneDigg this