siluet-pemuda-dan-merah-putih

Lima Perkara Yang Merusak Puasa Dan Menghancurkan Bangsa

Oleh: Suparman Abdul Karim, Ketua Lembaga Dakwah NU Lampung

Betapa banyak orang yang berpuasa lalu kemudian sia-sia. Yakni ia tidak mendapatkan pahala apapun kecuali hanya lapar dan dahaga. Ini dikarenakan ia tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan yang tercela. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan tercela dan perbuatan tercela, maka tidak ada gunanya bagi Allah ia meninggalkan makan dan minum” (Shahih al-Bukhari, no. 1903).

Ada lima perkara tercela yang dapat merusak puasa yang bermula dari lisan, yakni: Berbohong (al-Kidzb), Sumpah Palsu (al-Yamînul-Kâdzibah), Gosip (Ghibah), Fitnah (Hoax), dan Adu Domba (Namîmah). Tidak hanya Puasa, bahkan Shalat, Zakat dan Haji sekalipun akan rusak karena lima perkara ini. Allah Ta’ala dan Rasul-Nya telah melarang umat agar menjauhi lima perkara ini. Ada banyak keterangan yan terkait dengan hal ini, yakni:

Pertama, Tentang Berbohong (dusta), kebohongan itu selalu mengondisikan manusia pada perbuatan tercela, dan perbuatan tercela itulah yang mendorongnya ke Neraka (Shahih al-Bukhari, no. 6094); Kedua, Sumpah Palsu, Rasulullah SAW telah menetapkan bahwa sumpah palsu adalah dosa besar ketiga setelah Syirik dan durhaka kepada Orangtua (Shahih al-Bukhari, no. 6255); Ketiga, Ghibah, Rasulullah SAW bersabda, “Ghibah itu lebih kejam daripada berzina” (H.R. Thabrani); Keempat, Fitnah, Allah Ta’ala berfirman, “Fitnah lebih kejam daripada membunuh” (Q.S. Al-Baqarah: 191); dan Kelima, Adu Domba, Nabi SAW bersabda, “Tidak akan masuk Surga orang yang mengadu-domba (provokator)” (Shahih Muslim, no. 303).

Memperhatikan begitu keras ancaman terhadap lima perbuatan diatas, maka setiap insan yang bertakwa mestinya sangat takut untuk melakukannya. Setiap pribadi Muslim mestinya mawasdiri dan berhati-hati terhadap berbagai berita negatif. Terkadang Iman kita diuji ketika mendapat kabar buruk tentang golongan yang dibenci. Disinilah ketakwaan itu akan nampak, yakni ia akan menahan dirinya agar tidak menyebarkan berita tersebut. Terkadang karena kebencian terhadap suatu kaum membuat kita menjadi tajassus, yakni malah mencari-cari dan menyebarkan kekurangan orang lain.

DAMPAKNYA TERHADAP BANGSA

Selain merusak Ibadah dan mencederai Taqwa, lima perkara tersebut dapat mengakibatkan rusaknya kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika kita belajar dengan sejarah maka kita akan dingatkan kembali bahwa perkara tersebut yang telah merusak keutuhan masyarakat Islam. Ukhuwwah Islamiyah porak poranda gara-gara berita bohong, fitnah dan adu-domba.

Bercermin pada peristiwa Perang Jamal, yakni perang saudara pertama kali dalam sejarah Islam. Bermula dari kabar bohong (hoax) bahwa Khalifah Utsman r.a., telah melakukan kolusi dan nepotisme dalam pengangkatan para Gubernur. Berita bohong ini begitu cepat menyebar dan malah dipercaya oleh sesama shahabat yang Shalih. Benar perkataan orang bijak bahwa fitnah dan kebohongan tidak dipercaya oleh ahli maksiat, tetapi malah memperdaya orang-orang taat. Orang yang taat tidak merasa akan dibohongi, dikarenakan ia sendiri merasa mustahil menipu dan memfitnah. Akibatnya terjadi demonstrasi terhadap Utsman selama 40 hari. Sang Khalifah bahkan tidak berdaya untuk keluar rumah. Massa menuntut khalifah mundur dari jabatan atau mati. Pada malam ke-40, demostran masuk mendobrak rumah dan merangsek ke dalam kamar. Sang Pemimpin ternyata dijumpai sedang shalat Tahajjud dan dilanjutkan dengan membaca Al-Quran. Entah siapa yang memulai para pendemo memukul tengkuk sang pemimpin dan menghujamkan tombak ke dada Utsman. Beliau ambruk bersimbah darah dan al-Quran pun basah dengan darah Syahidnya Khalifah Utsman. Inilah awal fitnah yang sangat menyakitkan seorang Khalifah yang bertaqwa telah dibunuh oleh sesama sahabat Nabi yang juga taat.

Terbunuhnya Khalifah Utsman adalah awal dari fitnah yang sesungguhnya. Setelah itu diangkatlah Imam Ali r.a., sebagai Khalifah yang keempat. Kebohongan berikutnya pun dimulai melalui beberapa tahapan, Pertama, muncul kabar dusta bahwa Imam Ali adalah dalang pembunuhan Khalifah Utsman. Para pendusta berkata bahwa Imam Ali menduduki jabatan dengan cara yang curang dan ia tidak layak menjadi pemimpin. Tahapan Kedua, mulailah orang-orang munafik yang “berjubah agama” melakukan berbagai sumpah palsu dengan berkata, “Wallahi, demi Allah, Ali sudah curang dan tidak layak menjadi Khalifah”. Sungguh banyak orang-orang shalih dari sahabat Nabi SAW yang percaya dengan SUMPAH tersebut. Disaat yang sama orang-orang jahat tertawa puas bahwa fitnah mereka dipercaya oleh orang-orang baik.

Tahapan yang Ketiga, tersebarlah Ghibah atau gosip tentang kejahatan Imam ‘Ali dan membuat orang awam kehilangan pegangan. Tahapan Keempat, dari sekedar gosip lalu terjadilah fitnah bahwa para pembunuh Utsman berlindung di barisan Imam ‘Ali dan mereka memastikan bahwa Ali adalah aktor intelektual atas pembunuhan tersebut. Kaum muslimin mulai bergejolak para Shahabat pun sudah kehilangan rasa saling percaya. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa mereka sedang diperdaya. Akhirnya sampailah pada tahapan kelima, tahapan puncak, yakni ADU DOMBA.

Adalah ‘A’isyah (Ummul Mukminin), Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin ‘Awam dan sebagian sahabat yang lain ikut percaya dengan fitnah politik tersebut. ‘A’isyah rah., lalu memimpin “People Power” untuk menuntut keadilan kepada Pemerintah. Massa ketika itu terkonsentrasi di Baghdad dan Khalifah ‘Ali menugaskan Gubernur Baghdad untuk menenangkan massa demonstran. Disinilah peranan Provokator mulai bermain lincah. Sesosok orang Yahudi berjubah layaknya orang Muslim memanah Gubernur Baghdad dan anak panah melesat tepat di Jantungnya. Gubernur ambruk dan wafat seketika. Akibatnya malang tidak adapat ditolak, pecahlah perang saudara antara pasukan ‘A’isyah melawan pasukan pemerintah ‘Ali bin Abi Thalib.

Perang berkecamuk antara saudara seiman dan setanah air. Korban pun berjatuhan hingga 18.000 orang Shahabat meninggal dunia. Sebanyak 3000 korban jiwa dari pasukan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib (Pasukan Pemerintah) dan 15.000 dari pasukan Ummul Mukminin (oposisi). Oposisi pun mampu dikalahkan dan Imam Ali berpesan bahwa Ummul Mukminin tidak boleh cidera sedikitpun. Usai perang di tengah menyengatnya darah para korban mereka dipertemukan. Imam Ali dan ‘A’isyah menangis sejadi-jadinya. A’isyah rah., berkata, kita telah ditipu oleh tukang bohong dan tukang sumpah palsu dan kita diperdaya oleh tukang FITNAH dan ADU DOMBA (NAMIMAH). Semuanya tinggalah penyesalan dan para provokator tertawa riang seraya mengambil keuntungan atas lemahnya ummat Islam.

Nabi SAW memang telah mengisyaratkan bahwa setan sudah tidak berdaya menggoda orang-orang Arab yang ahli Shalat agar kembali menyembah setan. Tetapi setan berhasil mengadu-domba sesama mereka. “Sesungguhnya setan telah berputus asa untuk menjadikan orang-orang yang shalat agar menyembahnya, khususnya di Jazirah Arab, akan tetapi (ia tidak akan pernah berputus asa) untuk menimbulkan perpecahan diantara mereka” (Shahîh Muslim, no. 2812).

BELAJAR DARI SEJARAH

Jika kita sedia belajar dari sejarah, tenyata momen suksesi kepemimpinan adalah kesempatan para provokator untuk mengadu-domba bangsa-bangsa muslim. Mari kita segera sadari sejak dini agar kita bisa mengantisipasi setiap potensi perpecahan. Indonesia adalah negara muslim terbesar dan segera akan menjadi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar keempat di dunia Internasional. Oleh karena itu, setiap perbedaan haluan politik akan dimanfaatkan untuk memecah-belah kita. Sejarah telah membuktikan bahwa kaum Yahudi memanfaatkan kelompok Khawarij untuk mengacaukan umat Islam di zaman ‘Ali. Di abad modern ini Amerika memanfaatkan ISIS untuk melemahkan Timur-Tengah. Bahkan di Indonesia pun kaum neo-khawarij dimanfaatkan untuk memanaskan suasana dan berupaya berbuat kekacauan. Akhirnya orang-orang shalih, para tokoh bangsa, pemuka agama dan tokoh masyarakat terjebak dalam perpecahan dan saling hujat.

Syaikh Muhammad Said Al-Buthi berkata: “Ketika pintu FITNAH dibuka hanya orang pintar yang menyadari diawal pintu itu dibuka. Sedangkan orang bodoh baru mengetahuinya setelah semuanya HANCUR”.