ichwan adji wibowo, ketua tanfidziah nu kota bandar lampung

Konferwil dan Arus Besar Kebangkitan NU Lampung

oleh: Ichwan Adji Wibowo (Ketua PCNU Kota Bandar Lampung)

SEJAK mula Konferensi Wilayah (Konferwil) X Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung di Ponpes Darussaadah, Gunung Sugih, Lampung Tengah, direncanakan saya sudah berulang menulis di ruang medsos (WA maupun FB) bahwa perhelatan ini bakal menjadi yang paling semarak dan meriah sepanjang sejarah pelaksanaan konferwil NU di Provinsi Lampung. Saya bahkan berulang menyebut forum permusyawaratan tertinggi NU di level provinsi ini sebagai “lebarannya” nahdliyin Bumi Ruwa Jurai.

Sabtu dini hari lalu, 10 Maret 2018, hajat akbar nahdliyin Lampung tersebut telah usai. Bukan cuma menyisakan lelah banyak pihak, Konferwil X juga menghasilkan lembaran baru, penggalan sejarah perjalanan jam’iyah.

Ia telah mengendapkan kenangan ribuan nahdliyin yang hadir. Konferwil kemarin bahkan sangat mungkin telah mencuri perhatian jutaan publik nahdliyin Lampung yang tidak sempat hadir tapi tetap mengikutinya melalui pemberitaan berbagai media.

Memang seperti itu lah hajat konferwil semestinya dihelat. Seperti muktamar yang digelar lima tahunan dan selalu dinanti oleh warga NU, konferwil tidak sekadar ritual organisatoris yang hanya fokus mengagendakan persidangan, tetapi juga menjadi festivalnya nahdliyin.

Konferwil tak ubahnya karnaval kebudayaan Islam Nusantara. Semacam pergelaran ekspresi kegembiraan nahdliyin, dan karenanya pantas disebut lebarannya NU di level provinsi.

Sukses Konferwil X bukan sesuatu yang hadir begitu saja. Bukan sesuatu yang terpisah, atau lost context dengan rentetan capaian prestasi lainnya. Sebaliknya, gegap gempita pelaksanaan konferwil kali ini, meski di sana-sini masih terdapat kekurangan, masih perlu banyak perbaikan, merupakan sebuah indikasi puncak capaian, atau bagian dari bola salju sistem yang terus bergerak.

Ia buah dari terinjeksinya virus energi positif yang menjangkiti kesadaran kolektif nahdliyin untuk terus berharakah. Ini menjadi variabel penting dari hiruk pikuk Konferwil X.

Gairah Berjam’iyah

Saya bersyukur telah menjadi bagian dari proses panjang perjuangan perjalanan perahu PWNU periode 2013-2018. Turut merasakan atmosfer gairah berjam’iyah. terlibat “proyek kebajikan” sepanjang lima tahun masa khidmat. Sungguh, masih tersisa rasa menjadi volunteer dari jam’iyah besar ini.

Sepanjang masa khidmat ini lah seluruh pengurus merasakan bisa berkantor saban hari. Sekretariat NU hidup seperti layaknya kantor perusahaan atau pemerintahan, bahkan lebih. Bayangkan, jika kantor pada umumnya tutup sore hari, di sekretariat PWNU terkadang sampai malam masih terlihat geliat aktivitas.

Tentu kegairahan ini pun bukan tiba-tiba muncul. Ini bagian dari kerja sistemik. Hasil dari upaya keras, upaya by design.

Pada periode ini juga saya sungguh-sungguh merasakan nikmat sebagai aktivis. Bagaimana tidak, seringkali beberapa kegiatan besar, meski diagendakan serbadadakan, tapi bisa tetap dikelola dan disukseskan dengan baik.

Sekali lagi, ini lah hasil dari ramuan atau racikan “tangan dingin” yang memadukan variabel soliditas atau kekompakan, penatakelolaan kaidah keorganisasian yang benar, dan pengelolaan atmosfer berharakah, dan banyak variabel lainnya. Periode ini layak disebut sebagai periode penataan. Periode membangun kerangka landasan.

Meski demikian, tentu ada banyak kritik, ada banyak masukan. Ada banyak yang harus sungguh-sungguh didengar agar landasan ini kokoh untuk digunakan take off pengurus periode berikutnya.

Menjadi penting bagaimana menjaga momentum, merawat gairah, memelihara suasana kebatinan, agar atmosfer semangat berharakah ini bisa terus disambung-teruskan pada periode pengkhidmatan berikutnya. Harus ada mekanisme atau formula agar proses transfer atmosfer semangat berharakah yang sudah ada dalam ber-jam’iyah ini bisa smoothly.

Wisata Tabaruk

Mengakhiri tulisan ini, kembali saya ingin berbagi tentang makna spiritualiras dari diksi “nikmat ber-NU mana lagi yang hendak kau ingkari”. Pada gelaran konferwil kemarin, nahdliyin Lampung dari berbagai profesi hadir untuk berlebaran bersama.

Konferwil menjadi semacam prosesi puncak haflah pengkhidmatan pengurus sebelumnya. Di saat yang sama, ia sekaligus menjadi penawar dahaga nahdliyin Lampung untuk berwisata tabaruk, memburu keberkahan.

Maka beruntunglah saya bisa menikmati semuanya. Setiap saat berasyik-masyuk mendekati orang-orang saleh lagi alim demi berharap berkah, bercengkrama dengan para aktivis nahdliyin, nyruput kopi bareng, ngudut dan bertukar kelakar, meresapi gairah para nahdliyinyang di dadanya tersimpan kecintaan (hamasah) ber-NU tak terbilang kepayang, hingga berkesempatan masuk dapur umum sekadar menyapa dan menyelami semangat ibu-ibu yang berpeluh keringat, berjibaku dengan api dan asap yang menyengat.

Saya pun beruntung menemukan satu epos yang indah ketika mendapati seseorang nahdliyin yang menitikkan air mata pada prosesi pembukaan. Sang santri yang berdiri di tepi lapangan tak kuasa membendung haru demi melihat Rais Syuriah Kiai Muhsin Abdillah di atas panggung menunjukan perilaku wasathiyah (moderat)  dan tasamuh (toleran) ketika dengan santun dan damai berbagi kasih dengan tokoh lintas agama. Dengan nada tercekat, ia berujar, “Saya suka cengeng kalau lihat (kiai) yang kayak begini.”

Pada kesempatan lain saya sempatkan mampir di satu pojok tempat sekleompok nahdliyin muda menampilkan kreativitas, berdiskusi, melakukan kajian dan aksi. Mendengarkan mereka bersenandung dengan iringan gitar, sama nikmatnya dengan menelusuri sunyi di tengah kegaduhan.

Saya juga menyempatkan berkeliling mencium aroma penggiat ekonomi nadliyin, menengok sejumlah lembaga NU mengisi stand dan memamerkan produk-produk sebagai manifestasi tumbuhnya entrepreneurship di lingkungan NU. Di luar itu, masih ada Ibu Sutinah, penjual penganan yang menangguk berkah konferwil bersama penjual lainnya.

Hingga sampai pada kenikmatan terlibat dalam kerja senyap bernegosiasi, saling melobi, untuk kepentingan suksesi kepemimpinan. Dan semata untuk menghibur diri, saya menyempatkan menengok kandang kambing milik Abah Kiai Muhsin di belakang pondok sambil membayangkan sosok pribadi sederhana yang sejak lama saya kagumi.

Sekali lagi, kita semua berharap, Konferwil X dapat ditangkap sebagai gelagat tumbuhnya benih-benih kesadaran kolektif kebangkitan NU Lampung. Tugas pengurus terpilih untuk menyemainya. Untuk memimpin arus besar tren perubahan besar ini. Semoga.

Beritahu temanmu dengan membagikannyaShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on TumblrShare on VKShare on YummlyShare on StumbleUponShare on RedditPin on PinterestEmail this to someoneDigg this