IMG-20190124-WA0062

Jaringan Santri Millenial Lampung Apresiasi Kinerja Pemerintah

BANDAR LAMPUNG- Jaringan Santri Millenial Lampung (JSM Lampung), bekerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Hikmah Bandar Lampung, menggelar deklarasi dukungan terhadap pasangan no. 1 dan apresiasi pembangunan dalam pemerintahan satu periode Jokowi-JK. Di Aula Pesantren Al Hikmah Bandar Lampung, Kamis 24 Januari 2019.

Salah satu santri putri memimpin testimoni atau deklarasi dukungan yang diikuti oleh santri lain. Berikut bunyi testimoninya, “Kami Jaringan Santri Millenial Lampung mengapresiasi hasil pembangunan pemerintah dan siap mensukseskan pemilu 2019. Ayo menenangkan Jokowi – KH. Ma’ruf Amin, yes yes yes”

Sebelumnya menyuarakan apresiasi dan dukungan, JSM Lampung menggelar Talk Show Kebangsaan dengan tema “Peran Generasi Millenial dalam Mengapresiasi Pembangunan & Suksesnya Pemilu 2019″.

Hadir sebagai pembicara antara lain : Walfajri M. Pd (Akademisi IAIN Metro), Sholihin MH. (Anggota KPUD Lampung) dan Ust. Idhan Januardana (Sekretaris Yayasan al Hikmah Lampung). Serta Fathi Royyani sebagai moderator. Hadir juga pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikmah, KH. Drs.Basyaruddin Maisir.

Dalam sambutannya, KH. Basyaruddin Maisir bangga karena pesantrennya terpilih sebagai tempat acara pendidikan politik. Ia mengatakan “Santri di sini banyak yang menjadi pemilih pemula.
Karena pemilu kan milih pimpinan, negara kita tidak akan sempurna, damai, tanpa pemimpin yang bagus. Tidak boleh golput, harus milih yang terbaik.”

Dalam kesempatan wawancara, KH. Basyaruddin Maisir menyampaikan beberapa poin terkait pemilu. Antara lain pertama, pemilu kali ini bukan hanya mencari para pemimpin saja melainkan perang aqidah.

Sementara itu, anggota KPU Lampung Sholihin memberikan pemahaman kepada santri bahwa santri millenial harus melek politik dan memanfaatkan medsos. “Generasi millineal dan media sosial tidak dapat dipisahkan. Media sosial dapat memberikan hal positif,” katanya.

Sholihin juga mewanti-wanti agar bersosialmedia dengan sehat sehingga tidak turut menyebarkan hoax. Ia mencontohkan kasus hoax soal 7 kontener surat suara sudah dicoblos.” itu hoax. Ini serangannya ke KPU. Sekali lagi hoax. Karena itu kita harus bijak membagikan informasi,” ujarnya.

Selanjutnya ia mensosialisasikan tanggal pemungutan suara, dan jenis-jenis surat suara. Dan pentingnya peran generasi millenial dalam pemilu tahun 2019.

Sedangkan Walfajri sebagai akademisi menyoroti hasil pembangunan pemerintah. “Kalau pembangunan sudah bagus, ya harus dipertahankan. Kalau pemimpinnya ganti lagi, nanti pembangunan bisa tidak berkelanjutan,” ujarnya.

Terkait ulama dan Pancasila, Fajri menyayangkan banyak kelompok anti Pancasila berada di gerbong dukungan kepada paslon no. 2. Ia juga mengatakan
“kalau memang ulama dikriminalkan buktinya beliau (presiden) dekat dengan ulama. Kalau memang melakukan kriminalisasi, pasti diadili.”

“Umat Islam katanya ditekan, ditekan bagaimana. Banyak yang demo dengan bebas dan diberi ruang menyampaikan pendapat,” tandasnya.

Ada yang mengkritik bahaa Pemerintah gagal total. “Ada yang belum berhasil iya, tapi banyak yang berhasil. Lihat saja pembangunan infrastruktur. Ini isu atau opini, ini dibentuk dan diviralkan oleh pembenci pemerintah. Dalam pendidikan, banyak perguruan Islam menjadi universitas. Ini perlu diapresiasi,” tandasnya.(Aditia)