Rudy Irawan

Islam, Puasa, dan Ajaran Kemanusiaan

Islam, Puasa, dan Ajaran Kemanusiaan

Oleh: Rudy Irawan

KITA berpuasa selain sebagai konsekuensi dari pilihan kita sebagai hamba Allah yang beriman, adalah karena ibadah puasa diperintah oleh Allah. Tanpa ada perintah Allah, tidak ada artinya bagi diri kita. Karena ada perintah Allah inilah, apabila kita menjalankannya dengan ikhlas, berdasarkan keimanan, dan sekaligus untuk muhasabah atau introspeksi diri, kita berharap menjadi hamba-Nya yang bertaqwa (QS. Al-Baqarah:183).

Belum lama ini, sebagian saudara kita “rela” atau “dikorbankan” untuk melakukan aksi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, dengan harapan dapat korban dari mereka yang menjadi sasaran.

Aksi teror tersebut merenggut banyak korban, selain diri mereka sendiri, dan ironisnya, mengajak anak-anak yang menjadi korban. Sungguh ini peristiwa tragis yang tidak mudah dinalar oleh manusia beragama.

Banyak hal yang dapat dipertanyakan atau setidaknya menjadi perbincangan. Betapa tidak? Ajaran dari mana dan siapa guru yang mengajarkannya, sehingga mereka bisa memilih yang katanya “jihad” dan ingin segera masuk surga dengan cara tragis dan tidak berprikemanusiaan seperti itu? Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin (kasih sayang bagi seluruh penghuni alam raya) mengajarkan kedamaian, keharmonisan, persaudaraan, saling tolong menolong dan saling menyayangi antara satu dengan yang lain.

Ibadah puasa bertujuan sebagiannya menyadarkan keberadaan kita sebagai manusia yang memiliki sifat, katakter, dan jati diri kemanusiaan. Kita diperintah untuk berlapar-lapar dan berhaus-haus, agar kita mau dan bisa membayangkan betapa tidak enaknya orang yang lapar dan haus.

Secara alamiah orang yang berpuasa pasti lapar dan haus dan terasa berat. Karena iman dan keimanan kita, menafikan rasa lapar dan haus. Karena iman dan keimanan kita, kita dianjurkan untuk berempati dan bersimpati kepada mereka yang sedang lapar dan haus yang sesungguhnya. Kita diperintahkan untuk menyiapkan takjil dengan imbalan pahala, sebesar pahala orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala puasa mereka.

Orang yang berpuasa dianjurkan untuk menjadi dermawan dan dermawati. Imbalannya dari 100 hingga 700 kali lipat. Nanti mengakhiri puasa, orang yang berpuasa diwajibkan membayar zakat fitrah (bagi yang mampu). Tujuannya untuk membersihkan orang yang berpuasa, dan memberi makan kepada orang-orang miskin.

Sebagaimana Rasulullah SAW menegaskan:

عَن ابنِ عَبَّاسٍ – رضي الله عنهما – قَالَ: «فَرَضَ رَسُولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – زَكَاةَ الفِطرِ طُهرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعمَةً لِلمَسَاكِينِ، مَنْ أدَّاهَا قَبلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقبُولَةٌ، وَمَن أدَّاهَا بَعدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ» رواه ابو داود وبن ماجه .

Riwayat dari Ibnu Abbas ra mengatakan : “Rasulullah SAW memfardlukan (mewajibkan) zakat fitrah untuk mensucikan orang yang berpuasa dari hal-hal yang sia-sia dan ucapan kotor, dan memberi makan pada orang-orang miskin. Batangsiapa menunaikannya sebelum shalat (Idul Fitri), maka adalah zakat yang diterima, dan barangsiapa memenuhinya setelah shalat (Idul Fitri) maka itu adalah sadaqah dari sadaqah” (Riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Ilustrasi di atas menunjukkan dengan jelas dan gamblang bahwa ibadah puasa mengajarkan pada kita sebagai orang yang berpuasa, agar menjadi manusia yang benar-benar menjadi manusia seutuhnya, dan memanusiakan manusia yang lain. Karena memang ajaran Islam adalah yang diturunkan kepada manusia yang sangat mulia, Rasulullah Muhammad SAW, dan ditugasi mengajak dan membangun umatnya menjadi manusia umat yang terbaik. Karena itu, tugas dan peran amar makruf nahy munkar, untuk tujuan kebaikan, adalah inti, ruh, dan nyawa ajaran Islam.

Apabila ada orang atau kelompok yang mengajarkan untuk memusuhi orang lain, membunuh, dan mengajak bermusuhan, maka katakan bahwa kita sedang berpuasa. Rasulullah SAW suatu saat menegaskan :

عن أبي سعيد سعد بن سنان الخدري رضي الله عنه : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ( لا ضرر ولا ضرار ) ، حديث حسن رواه ابن ماجة والدارقطني وغيرهما مسندا ، ورواه مالك.

Riwayat dari Abu Said bin Sinan al-Khudzry ra, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah berbuat madlarat (untuk diri sendiri) dan jangan berbuat yang memadlaratkan (orang lain)”. Hadits Hasan riwayat Ibn Majah dan ad-Daruquthny dan selain keduanya secara musnad, dan Imam Malik juga meriwayatkannya.

Dalam kaidah fiqh, kemadlaratan itu harus dihilangkan. Bahasa Ulama الضرر يزال artinya “kemadlaratan itu dihilangkan”.

Dengan demikian, jika ada ajaran yang mengedepankan perbuatan yang madlarat, dan diatasnamakan ajaran agama, berarti itu ajaran yang justru “menodai” dan “memanipulasi” ajaran agama demi ambisi untuk berbuat teror, mengorbankan diri sendiri dan orang lain. Lebih menyedihkan lagi, praktik ajaran kekerasan tersebut diklaim sebagai bentuk jihad.

Semoga melalui ibadah puasa yang kita jalankan, dapat menjadikan rasa kemanusiaan kita lebih halus, bisa menghargai diri kita sendiri, keluarga kita sebagai manusia, dan dapat menghormati saudara-saudara kita apapun agama mereka, karena mereka juga saudara kita sebagai sesama manusia. Buang air di lobang semut saja dilarang oleh ajaran agama kita, hanya karena kita menghormati makhluk Allah yang berupa hewan semut. Allah bahkan menghormati semut, bahkan dijadikan sebagai salah satu nama surat di dalam Alqur’an, surat an-Naml.

Semoga Allah menerima ibadah kita, dan kita menjadi makin mengerti dan memahami bahwa ibadah puasa adalah untuk menjadikan kita manusia yang utuh dan seutuhnya, siap menghormati sesama, dan memuliakan mereka. Kita memiliki ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sesama anak bangsa), dan ukhuwah insaniyah/basyariyah (persaudaraan sesama manusia). Wallaahu a’lam bi sh-shawab.

*) Penulis adalah Wakil Ketua PCNU Bandar Lampung/Dosen UIN Lampung

Beritahu temanmu dengan membagikannyaShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on TumblrShare on VKShare on YummlyShare on StumbleUponShare on RedditPin on PinterestEmail this to someoneDigg this