IMG-20181118-WA0307

Idul Fitri : Moment Torehkan Tinta Mas

Oleh: Rudy Irawan Wakil Ketua PCNU Bandar Lampung, Dosen Trabiyah UIN Raden Intan Lampung

Tanggal 5 Juni 2019 Umat Islam di seluruh Indonesia merayakan Idul Fitri 1440 H. Ada yang sudah merayakannya 4 Juni 2019 seperti di Arab Saudi dan Amerika Serikat. Perbedaan ini soal biasa saja, tidak perlu dipersoalkan, karena pemberlakuan mathla’ internasional, memang tidak mudah. Karena edar matahari dan bulan memag berbeda antara Indonesia dan Negara tersebut.

Hadirnya Idul Fitri, menghadirkan kegembiraan karena siapa yang berhasil berpuasa di bulan suci Ramadhan, berarti ia merayakan kemenangan, karena kembali pada kesucian dirinya, setelah dicuci melalui lapar, haus, pantang hubungan suami isteri, dan hal lain yang membagalkan puasa, dan disempurnakan dengan membayar zakat, sebagai wujud ibadah sosial pada sesama yang membutuhkan. Namun di sisi lain, kita ditinggalkan bulan penuh rahmat, maghfirah, dan keberkahan. Bulan yang memicu dan memacu kuantitas dan kualitas ibadah kita, karena banyak dilipatgandakan pahala.

Rasulullah saw mengingatkan kita “seandainya umatku mengetahui kebaikan-kebaikan dalam bulan suci Ramadhan, sungguh mereka berharap seluruh tahun menjadi Ramadhan”. Hadits tersebut, sangat populer. Tentu ini pesan substantif, yang harus dimaknai dan difahami secara cerdas essensi dan tujuannya. Karena bulan Syawal, pasti datang, dan Ramadhan pasti meninggalkan kita. Untuk itu, spirit dan motivasi ibadah baik mahdlah maupun sosial, perl uterus dijaga seperti kita di bulan Ramadhan.

Syawal secara bahasa artinya meningkat. Laksana kendaraan yang baru saja diservice secara menyeluruh, rasanya seperti baru. Maka power dan kenyamanannya laksana kendaraan baru. Tentu ini analog yang sangat sederhana. Keberadaan diri kita yang dibekali oleh Allah, chip sensorik yang dalam keadaan fithri, ia hanya ingin, angan, dan upayanya, meminjam Ibnu Sina, filosuf muslim kenamaan, hanyalah yang baik, benar, dan indah. Ini paralel dengan term uli l-albab dalam bahasa Al-Qur’an.

Kata albab bentuk jamak (plural) dari kata lubb, artinya keinginan untuk berbuat baik (dairatu l-ma’arif). Indikator uli l-albab di dalam al-Qur’an disebutkan “mereka yang senantiasa berdzikir mengingat Allah, baik dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring, dan berfikir tentang berbagai penciptaan langit dan bumi, karena tidak ada penciptaan Allah yang sia-sia” (QS. Ali Imran: 191).

Leluhur kita mengajarkan, bahwa bersilaturrahim dan halal bihalal, semua dirancang oleh KH Wahab Hasbullah, atas usul Bung Karno, yang melihat ada perbedaan kecenderungan politik yang amat tajam. Tidak cukup hanya dengan rekonsiliasi, akan tetapi bagaimana kemasan format rekonsiliasi yang lebih bernilai, lebih menyentuh dari hati ke hati, bahwa persatuan, kesatuan, dan mengkonstruksi bangunan persaudaraan sejati sesama anak bangsa, apapun beda agama, pilihan politik, suku, dan budaya, adalah modal utama dari kebhinnekaan dan kemajemukan Indonesia. Tidak ada bangsa mana pun di dunia ini, yang lebih majemuk, bhinneka, dan pluralitas, dari Indonesia. Namun bangsa ini sejak dari kemerdekaannya, 1945, hingga sekarang ini, masih dan akan terus tetap utuh, sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Mudik dan halal bihalal adalah kata kunci, perekat perbedaan dan kekuatan persatuan dan kesatuan Indonesia. Meskipun seakan hanya setahun sekali rekatan silaturrahim itu, akan tetapi makna san implikasi positifnya luarbiasa. Mudik bukan hanya pengalihan sektor ekonomi, akan tetapi inilah cerminan keberagamaan setiap orang yang berkiprah di luar daerahnya, mewajibkan diri untuk mudik dan bersilaturrahim.

Di tengah suasana implikasi politik pasca pilpres, yang hasilnya diumumkan di bulan Ramadhan, juga tersejukkan oleh suasana Ramadhan, meskipun masih menyisakan peristiwa 21-22/5/2019 yang dicatat sejarah, sebagai peristiwa yang menguras keprihatinan dan juga mengiris rasa kemanusiaan kita.

Torehkan Tinta Mas

Perjalanan hidup kita ini, sepenuhnya diserahkan oleh Allah pada kita, apakah mau dihiasi dengan nilai raport merah atau hitam, atau bahkan dengan tinta mas. Allah mengaruniai kita hati (qalbu). Qalbu artinya bergerak-gerak. Kendali hati dengan iman dan pemupukannya melalui amal shalih dan jalankan islam (syariah), akan lahirkan ihsan. Ihsan arti bahasanya berbuat baik, dalam terminologi, adalah apabila kita beribadah kepada Allah, yakinlah kita melihat-Nya, atau jika tidak mampu, maka yakinlah kita bahwa Allah senantiasa melihat kita (Riwayat al-Bukhari).

Untuk kita renungkan secara seksama, pesan Rasulullah saw “barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dialah orang yang beruntung. Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka dialah orang yang merugi. Berangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka dialah orang yang tertipu”. (Riwayat al-Hakim).

Bagi Anda yang mudik jaraknya sangat jauh, dan kita semua yang mudik, jangan lupa ziarahi orang tua, baik yang masih hidup atau yang sudah di alam kubur, agar hatimu jadi lembut, ingat akhirat, dan ingat kematian. Dari sinilah, kita bertekad untuk menorehkan tinta mas perjalanan hidup kita. Semoga kita selama satu tahjn ke depan denantiasa dalam kebaikan.

Ja’alana Allah wa iyyaakum min al-‘aidin wa l-faizin, taqabbala Allah minnaa wa minkum taqabbal yaa kariim. Semoga Allah menjadikan kita kembali pada kesucian, yang berbahagia, semoga Allah menerima ibadah kita semua wahai Dzat Yang Maha Mulia.

Selamat Idul Fitri 1440 H. Mohon maaf lahir dan batin. Allah a’lam bi sh-shawab.