WhatsApp Image 2017-11-27 at 11.28.45 PM

Harlah Kopri: Indonesia Darurat Kekerasan Perempuan

BANDAR LAMPUNG – Momentum Hari Lahir (Harlah) Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Puteri (Kopri) menjadi momentum merefleksikan diri atas kondisi perempuan saat ini. Saat ini, kasus kekerasan terhadap perempuan masih terbilang sangat banyak. “Catatan Akhir Tahun (Catahu) 2017 Komnas Perempuan menemuan 259.150 kasus,” kata Ketua Kopri Lampung Ana Yunita Pratiwi saat memberikan sambutan acara HUT ke-50 Kopri di Balai Keratun, Senin (25/11/2017) pagi.

Kopri Lampung pun selalu mengampanyekan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 Days of Activitism Against Gender Violence). Sebagai badan semi otonom PMII, Kopri pun tak ingin Indonesia dalam keadaan darurat kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Lahirnya Peraturan Menteri (Permen) PPPA Nomor 6 Tahun 2017 tentang Satuan Tugas Penanganan Masalah Perempuan dan Anak dinilai Kopri membawa angin segar. Hal ini dikarenakan Permen mewujudkan kegelisahan kaum perempuan yang sering dijadikan objek kekerasan. “Ini solusi penghapusan kekerasan hingga akar rumput,” kata Ana.

Disisi lain, kata Ana UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa memberikan peluang mempercepat kesejahteraan masyarakat. Desa diberikan kewenangan luas untuk mengelola wilayahnya. “Kopri Lampung pun telah mengkaji untuk peningkatan kualitas SDM,” kata dia.

Sebagai lembaga perempuan semi otonom PMII, Kopri pun siap memerangi kejahatan terhadap perempuan. Namun, kata Ana Kopri tidak mampu berjalan sendiri tanpa bantuan dari stakeholder pemerintah. “Kebijakan perlidungan perempuan harus sampai akar rumput,” kata dia.

Kopri pun mengajak seluruh stakeholder mengampanyekan penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Hal ini bisa dilakukan dengan kerjasama yang terjalin. Karena, kata Ana perempuan sangat membutuhkan perlindungan khusus.

Sebagai bukti nyata, Kopri mengajak Lembaga Advokasi Perempuan DAMAR mengundang Komnas Perempuan RI dan Dinas Pemberdayaan Perempuan Provinsi Lampung berdiskusi bersama. Diskusi publik itu, kata Ana diharapkan bisa membawa kesimpulan yang baik untuk perempuan. “Kami (Kopri) undang stakeholder bersama mengentaskan kekerasan terhadap perempuan,” kata Ana. (ESA)

Beritahu temanmu dengan membagikannyaShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on TumblrShare on VKShare on YummlyShare on StumbleUponShare on RedditPin on PinterestEmail this to someoneDigg this