IMG-20190514-WA0027

Berakhlak Dengan Akhlak Al-Qur’an

Oleh: Rudy Irawan, M.S.I. (Wakil Ketua PCNU Bandar Lampung, Dosen Tarbiyah UIN Lampung)

Al-Baqarah 185 menegaskan bahwa “pada bulan Ramadhan Allah menurunkan permulaan Al-Quran, sebagai petunjuk dan penjelas dari petunjuk dan pemisah (antara yang batil dan yang haq)”. Al-Quran juga bertujuan sebagai obat atau penyembuh manusia (syifa’ li n-nas) dan kasih sayang bagi orang-orang yang beriman (rahmatan li l-mu’minin) (QS. Al-Isra’ (17): 82)”. Masih banyak penegasan Al-Quran tentang fungsi Al-Quran bagi kehidupan manusia. Pertanyaannya adalah, apakah dalam realitanya, orang-orang yang mengaku beriman, percaya, dan meyakini kebenaran Al-Quran, sudah mampu mengimplementasikan nilai-nilai Al-Quran dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Meminjam bahasa Prof Quraish Shihab, “membumikan Al-Quran”? Suatu saat seseorang bertanya kepada Ummu l-Mu’minin Aisyah ra, “bagaimana berakhlak sebagaimana akhlak Rasulullah saw?” Aisyah ra mengatakan: “Takhallaquu bi akhlaqi l-Qur’an”. Artinya “Berakhlaklah dengan akhlak Al-Quran”. Apabila kita memahami akhlak dari perspektif “bangunan” dari iman, islam, ihsan, maka berakhlak dengan akhlak Al-Qur’an berarti praktik kehidupan bermuamalah sehari-hari sudah berada pada pengamalan ihsan. Ihsan secara bahasa artinya berbuat baik. Dalam penjelasan Rasulullah saw kepada malaikat Jibril yang menampilkan sosok laki-laki muda ketika bertanya tentang ihsan, beliau menegaskan” “an ta’buda Allaha ka annaka taraahu fa in lam yakun yaraahu fa innahuu yaraaka” artinya “apabila kamu beribadah (menyembah) Allah, seakan-akan kamu melihat-Nya, maka apabila kamu tidak “mampu” melihatnya, maka yakinlah bahwa sesungguhnya Dia melihatmu”.

Dengan kata lain dapat ditegaskan, bahwa cerminan sosok seorang muslim/muslimah dalam kehidupan sehari-harinya, ia tampil selalu rapi, rajin, bertutur kata yang lembut, suara yang nyaman didengar, menghormati orang lain seperti ia memperlakukannya pada dirinya sendiri. Ia selalu berusaha menjadi yang terbaik, dari aspek iman, islam, dan ihsan.

Keimanannya kepada Allah dan rukun iman lainnya, ia tampilkan misalnya dalam dirinya yang menjadi “cermin” bagi kekuasaan Allah, Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Maha Pengasih yang senantiasa mengasihi tanpa pilih kasih, kepada siapa pun yang taat dan maksiyat tetap saja dikasihi. Maha Penyayang yang senantiasa menyayangi hamba-hamba-Nya yang taat dan berbakti serta mengabdi kepada-Nya.

Rasulullah saw menunjukkan karakter diri beliau, “yang karena kasih sayang Allah, bersikap lemah lembut, tidak keras dan kasar kepada orang lain, pemaaf dan bahkan memohonkan ampunan kepada Allah. Dalam menyelesaikan suatu urusan beliau mengajak bermusyawarah. Dan ketika memiliki kemauan atau tekad yang tinggi, beliau tetap rendah hati dan penuh kepasrahan bertawakkal kepada Allah. Karena Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang bertawakkal” ( QS. Ali ‘Imran: 159).

Orang yang beriman tutur katanya baik, atau jika tidak bisa bertutur kata yang baik, maka lebih baik diam, menghormati tetangga, dan para tamu-tamu yang mengunjunginya” (Riwayat Bukhary dan Muslim). Orang tua kita bilang “diam itu emas”. Aroma mulut orang yang berpuasa itu, “wangi” atau “harum” laksana wanginya minyak misik atau kasturi, yang harganya cukup mahal. Karena ia bisa menjaga, ia rela tidak bicara jika tidak benar apa yang dibicarakan.

Dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah, orang yang berakhlak Al-Quran, ia wujudkan hidup dalam keseimbangan antara ibadah mahdlah dan ibadah sosialnya. Karena ibadah mahdhah atau ritual yang sering disebut dengan hablun min Allah tidak akan banyak arti dan manfaatnya jika tidak dibuktikan dengan ibadah sosial yang cukup. Apakah dia bertindak untuk dan atas nama dirinya sendiri, maupun ketika ia bertindak untuk dan atas nama badan, organisasi, atau lembaga di mana dia mengabdikan dirinya.

Saudaraku menegaskan, “orang Islam yang beragama secara berkualitas adalah manakala ia mampu menjaga kenyamanan orang lain dari tutur kata lisan dan dampak dari tangan kekuasaannya dan irang yang hijrah adalah orang yang hijrah meninggalkan dari apa yang dilarang oleh Allah” atau “al-muslim man salima l-muslimuna min lisaanihi wa yadihi wa l-muhajir man haajaa ‘an maa nahaa Allah ‘anhu”.

Bahkan ketika Rasulullah saw menjelaskan tentang kemabruran ibadah haji umat beliau, dijelaskan bahwa kemabruran haji itu indikatornya adalah “menebar kebahagiaan atau keselamatan, memberi makan orang yang membutuhkan, bersilaturrahim menhambung persaudaraan, dan menjalankan shalat di kala kebanhakan orang sedang pada tidur nyenyak”. (Riwayat at-Tirmidzi dinyatakan shahih).

Jika dicermati, hadits tersebut, tiga indikator pertama adalah ibadah sosial, dan indikator keempat, adalah ibadah ritual shalat malam. Tentu seseorang akan rajin bangun malam, manakala shalat maktubatnya sudah dipenuhi dan jalaninya dengan sangat baik. Mana mungkin orang yang misalnya ada, shalatnya setahun dua kali (Idul Fitri dan Idul Adlha), ia bisa menikmati nilai dan nikmatnya beribadah kepasa Allah. Semoga Allah memberi pertolongan dan kemudahan kita untuk mampu secara bertahap berakhlak dengan Akhlak Al-Quran, karena itulah Akhlak Rasulullah saw. Sosok manusia sempurna (insan kamil) sebagai uswatun hasanah (teladan yang baik). Allah a’lam bi sh-shawab.