MWC

Ber-NU Harus Sejalan Fikroh, Harokah dan Amaliahnya

BANDAR LAMPUNG- Sekretaris PCNU Kota Bandarlampung, Provinsi Lampung, Kiai Habibul Muttaqin mengajak seluruh warga dan pengurus NU untuk secara kolektif menjalankan tiga pilar dalam ber-NU yakni harakah, fikrah dan amaliah.

Ia mengingatkan pengurus dan warga NU harus sejalan dan memiliki gerak yang sama serta tidak terpengaruh kelompok lain yang merongrong pilar tersebut.

“Secara harakah (gerakan) warga dan pengurus NU  harus bergerak sesuai dengan cara NU. Gerakan NU yang baik adalah gerakan yang selaras dan satu koordinasi dengan keorganisasian NU. Siapapun bisa bergerak untuk NU. Bisa berjuang bersama struktural maupun hanya sebagai kultural,” ungkapnya.

Secara fikrah (pemikiran) lanjutnya, Nahdlatul Ulama senantiasa mengusung nilai-nilai yang berhaluan pada konsep tasammuh (toleran), tawassuth (moderat), tawazzun (seimbang) dan ‘adalah (adil). Artinya, NU tidak condong pada pemikiran-pemikiran liberal ataupun pemikiran-pemikiran radikal,” ungkapnya.

Secara amaliah (cara beribadah) menurutnya, Nahdlatul Ulama merupakan organisasi Islam yang mengusung ideologi Aswaja serta menjaga kemurnian islam dengan berpegang pada Al-Qur’an, sunah Nabi, dan para sahabat dengan sanad keilmuan yang jelas.

“Dalam persoalan fiqih bermadzhab pada salah satu madzhab empat, yaitu Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Hanbali. Dalam beraqidah sesuai dengan aqidah Islam yang diajarkan Rasulullah yang sudah dikemas rapih dalam manhaj Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi. Dalam bertasawuf mengikuti pendapat-pendapat yang sudah dirumuskan oleh Imam Junaidi al-Baghdadi dan Imam Al-Ghazali,” jelasnya.

Penjelasan ini disampaikan Pengasuh Pesantren Nasihudin Bandarlampung ini pada Lailatul ijtima’ Majelis Wakil Cabang dan Ranting NU se-Kecamatan Kemiling di Masjid Nurul Huda Way Nangka, Pinang Jaya, Sabtu (2/3) malam.

Sementara Rais Syuriyah Ranting NU Pinang Jaya yang juga pengurus Masjid, Kiai Amin Mustakim mengungkapkan, saat ini banyak kelompok yang mencoba menjauhkan warga NU dari ke tiga pilar tersebut. Sudah mulai ada warga NU yang beribadah menggunakan amaliah NU namun secara harakah tidak sejalan dengan NU.

“Jka amaliah NU sudah dilakukan tetapi masih membenci NU maka bagaikan orang yang suka terhadap suatu makanan tetapi membenci kepada yang memasak,” ungkapnya memberi contoh.

Kegiatan Lailatul Ijtima yang rutin dilaksanakan secara rutin dan terjadwal ini diisi dengan berbagai kajian dalam rangka memperkuat amaliah Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyyah.

Pada kesempatan tersebut, jamaah bersama-sama mendengarkan pemaparan Kiai Musthofa, Wakil Ketua MWC NU Kemiling, yang memaparkan materi Tafsir Surat Yasin.

Kiai Mustofa menjelaskan, segala sesuatu ada hatinya sedangkan hati Al Qur’an adalah surat Yasin. Maka siapapun yang sedang menghadapi masalah atau bersedih dianjurkan membaca surat Yasin agar hatinya lebih tenang (Sunarto)