IMG-20180603-WA0002

Belajar Menjadi Pemimpin Sukses Melalui Permainan

Belajar Menjadi Pemimpin Sukses Melalui Permainan

Oleh Rudy Irawan

ALKISAH, seorang “guru” memberi kepada sepuluh murid-muridnya sebuah spidol yang diikat sepuluh tali rafia, dan satu botol teh kosong. Sang Guru memberikan tugas kepada sepuluh murid untuk memasukkan spidol tersebut ke dalam botol dengan cara membelakangi botol dan tanpa melihat.

Karena sepuluh murid itu “harus” membelakangi botol yang menjadi fokus dan tujuan pencapaian prestasi dengan memasukkan spidol ke dalam botol, maka diperlukan seorang leader atau “imam” yang memiliki kompetensi dan managerial-skill untuk bisa dan mampu memberikan instruksi, aba-aba, dan komando kepada sepuluh “makmum” untuk mencapai tujuan.

Pada sepuluh murid tersebut, dalam waktu yang tidak terlalu lama, berhasil memasukkan spidol ke dalam botol. Setelah sepuluh murid itu berhasil memasukkan spidol ke dalam botol, sang guru memerintahkan sepuluh murid yang lain, dengan model yang sama. Namun yang kedua ini, dalam waktu yang ditentukan, ternyata tidak berhasil memasukkan spidol ke dalam botol.

Banyak pelajaran bisa kita ambil dari permainan tersebut. Tanpa bermaksud melakukan ajusment pada sepuluh murid yang “belum berhasil” memasukkan spidol ke dalam botol, karena pelajaran itu juga bisa didapat dari “kebelum berhasilan” untuk tidak mengatakan “kegagalan”.

Karena itu, sebagai orang tua atau setidaknya “guru-guru” untuk anak-anak kita, apabila suatu saat, apa yang diinginkan anak kita belum berhasil, tentu akan lebih bijak, manakala kita mengatakan bahwa itu “belum berhasil”, tidak gagal. Atau dengan bahasa yang sedikit vulgar, “kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda”.

Naluriyah, tabiat, atau karakteristik manusia dikarunia bakat atau talenta menjadi pemimpin. Allah ‘Azza wa Jalla, memberikan amanat kepada manusia menjadi khalifah di muka bumi (khalifatu Allah fi l-ardl).

Secara harfiyah, khalifah berasal dari kata khalf, artinya “belakang”. Dan kata khalifah artinya pengganti. Abu Bakr ash-Shiddiq ra adalah khalifah Rasulillah saw, ‘Umar bin al-Khaththab ra adalah khalifatu khalifati Rasulillah saw. Karena “terlalu panjang”, maka Khalifah ‘Umar menggantinya menjadi Amirul-Mu’minin atau “Pemimpin orang-orang yang beriman”. Dari kata amir, lahir kata Umara’ bentuk jamak dari amir.

Rasulullah SAW menegaskan:

عن ابن عباس ولفظ أبي نعيم في الحلية قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : صنفان من الناس إذا صلحا صلح الناس وإذا فسدا فسد الناس العلماء والأمراء وأخرج الديلمي

Dari Ibnu ‘Abbas, dan redaksi Abu Na’im dalam al-Hilyah bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Dua kelompok manusia, apabila keduanya baik, maka baiklah manusia, dan apabila keduanya rusak, maka rusaklah manusia, (yakni) Ulama dan Umara’” (Ditakhrij ad-Dailamy). 

Sebagai seorang pemimpin, leader, atau imam, tidak akan bisa sukses tanpa ada orang yang dipimpin, makmum, atau jamaah. Karena itu, diperlukan kerjasama yang baik, solid, saling mengenal dengan baik, saling mendukung, saling menghormati, saling membantu, dan saling tolong menolong. Laksana shalat berjamaah, maka dalam memilih imam, diperlukan kualifikasi tertentu untuk layak diposisikan menjadi imam.

Seorang pemimpin atau imam musti dipilih dari orang yang ‘alim (berilmu), ilmu fiqhnya atau baca kompetensi untuk memahami berbagai persoalan yang menjadi urusannya (faqih), hidupnya lebih wira’i atau hati-hati dan “istiqamah” hidupnya, dan dipilih dari yang lebih senior atau akbaru sinnan.

Sikap seorang imam itu tawadlu’ atau rendah hati. Ini dimaksudkan, agar imam menjadi seorang yang layak menjadi panutan atau teladan, kompeten baik secara lahiriyah-bathiniyah, namun juga pada substansi tugas dan kapasitas keilmuannya.

Bagi orang yang berilmu yang “berkualitas” sebenarnya “pantang” untuk “merebut” atau “berebut” untuk menjadi “imam shalat”.  Karena orang yang tawadlu’ secara keilmuan dan “kematangan spiritual”, biasanya ketika diminta untuk menjadi imam, ia menyerahkan kepada orang lain.

Ia menyadari bahwa ada orang lain yang lebih alim, lebih memahami persoalan yang menjadi kewenangan dan tanggungjawabnya. Namun kita sering melihat, masih banyak orang yang kompetensi dan keilmuan agamanya sesungguhnya tampak sekali kurang atau tidak memadai, ini bisa dilihat dari bacaan Alqurannya, tajwid atau tata cara membacanya jauh dari yang ideal, tetapi ternyata “nekad” menjadi imam.

Kembali pada permainan di awal tulisan ini, maka selain diperlukan pemimpin yang kapabel, kompeten, dan kredibel, juga diperlukan aba-aba atau “instruksi” yang harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh semua makmum secara bersama-sama dan kompak.

Kita bisa belajar dari “murid” yang belum berhasil, didapatkan “kesan” antara “imam” dan “makmum” belum ada kecocokan, keserasian, dan menimbulkan kesatuan dan kebersamaan langkah di dalam mencapai goal atau tujuan yang diinginkan.

Agar imam dapat dipatuhi oleh makmumnya, kompetensinya harus jelas, bekerja secara fokus, memberikan aba-aba atau instruksi secara tegas, namun didasari dengan ketulusan, kecintaan, dan keharmonisan. Demikian juga makmum, harus mampu bekerjasama dengan baik, saling menghormati, tolong menolong, dan tentu membutuhkan kompetensi supaya siap melaksanakan perintah imam.

Rasulullah SAW memberikan warning atau wanti-wanti agar apabila umat beliau bepergian, maka pilihlah salah satu menjadi pemimpin. Dalam bahasa keseharian kita, “jangan sampai ada matahari kembar”. Atau dalam suatu organisasi tidak jelas, siapa pemimpin yang dipercaya. Sebab dalam keseharian, ada pemimpin secara de jure dan ada pemimpin yang de facto. Atau dalam bahasa lugasnya, pemimpin secara formal atau de jure namun dalam realitanya, pemimpin yang de facto berada di tangan orang lain. Jika ini masih terjadi sudah barang tentu sangat mengancam organisasi atau “jamaah” itu untuk dapat mencapai tujuan yang diinginkan.

Kerjasama dan saling tolong menolong adalah kewajiban. Dalam sebuah hadits qudsy, Allah SWT menegaskan:

قال أبو داود ( السنن)(3383) : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْمِصِّيصِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الزِّبْرِقَانِ عَنْ أَبِي حَيَّانَ التَّيْمِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَفَعَهُ قَالَ : ( إِنَّ اللهَ يَقُولُ : أَنَا ثَالِثُ الشَّرِيكَيْنِ مَا لَمْ يَخُنْ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ ، فَإِذَا خَانَهُ خَرَجْتُ مِنْ بَيْنِهِمَا ) .

وأخرجه كذلك الدارقطنى (3/35/139) ، والحاكم (2/52) ، والبيهقى (6/78) .

Abu Dawud berkata (al-Sunan), Muhammad bin Sulaiman al-Mishshishy, Muhammad bin az-Zibriqan, meriwayatkan dari Abi Hayyan at-Taimy, dari Ayahnya, dari Abu Hurairah yang memarfu’kannya, berkata : Sesungguhnya Allah berfirman : “Aku adalah pihak ketiga dua orang – atau lebih – yang berserikat  (bekerjasama/berkongsi) selama tidak ada yang mengkhianati satu pada yang lainnya. Maka apabila ada salah satu yang mengkhianatinya, maka Aku (Allah) keluar dari antara mereka (berdua atau lebih)” (Dikeluarkan juga oleh ad-Daruquthny, al-Hakim, dan al- Baihaqy).

Mengakhiri renungan ini, mari kita terus belajar. Kata bijak mengatakan, “lihatlah apa yang terkatakan – termasuk melalui mainan – jangan lihat siapa yang mengatakannya (baca menyajikannya). (*)

*) Penulis adalah Wakil Ketua PCNU Bandar Lampung/Dosen UIN Lampung

 

Beritahu temanmu dengan membagikannyaShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on TumblrShare on VKShare on YummlyShare on StumbleUponShare on RedditPin on PinterestEmail this to someoneDigg this