Rudy Irawan

Belajar dari Perjalanan Hijrah Rasulullah SAW

Belajar dari Perjalanan Hijrah Rasulullah SAW

Oleh : Rudy Irawan

HARI ini, Minggu (7/9/2018), adalah bertepatan dengan tanggal 29 Dzulhijjah 1439 H menurut kalender Arab Saudi. Di Indonesia baru tanggal 28 Dzulhijjah 1439 H. Bukan soal selisih satu hari yang akan dibahas di sini. Tetapi yang jelas dalam hitungan satu dua hari ini, kita memasuki tanggal 1 Muharram 1440 H, tahun baru dalam penanggalan kalender Islam.

Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1440 H, semoga Allah SWT senantiasa menolong kita, untuk mampu menorehkan tinta emas dalam mengisi lembaran hidup kita. Karena itu, kita dianjurkan untuk berdoa di akhir tahun setelah Shalat Ashar dan setelah Shalat Maghrib di awal tahun  memohon kepada Allah, agar hidup kita bisa kita isi dengan amalan yang baik dan bermanfaat, guna mengisi tambahan bekal kita menghadap kepada Allah.

Rasulullah SAW telah berjuang selama 12 tahun lebih setelah menerima wahyu pertama QS. Al-‘Alaq: 1-5 di Gua Hira’ Jabal Nur. Menurut beberapa sumber sejarah baru mendapatkan pengikut sebanyak 200 orang. Itu pun dengan berbagai pelecehan, penghinaan, dikata-katain sebagai orang gila,  dan bahkan ancaman pembunuhan. Apalagi saat-saat Rasulullah sudah memerintahkan para sahabat untuk hijrah ke Madinah terlebih dahulu, sambil beliau menunggu wahyu atau perintah Allah untuk hijrah ke Madinah.

Saat-saat akhir, tinggal Rasulullah SAW, Abu Bakar ash-Shiddiq, dan Ali bin Abi Thalib. Kaum kafir Quraisy telah menyiapkan rencana jahat untuk membunuh Rasulullah. Sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Anfal: 30,

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ ۚ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

“Dan (ingatlah) ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya” (QS. Al-Anfal: 30).

Rencana jahat kaum kafir Quraisy telah diketahui oleh Rasulullah. Allah menugasi Malaikat Jibril, agar Muhammad SAW segera berhijrah.

Jibril berkata : “Muhammad, malam ini kamu jangan tidur di tempat tidurmu, karena sesungguhnya Allah SWT memerintahkanmu untuk berhijrah ke Madinah” (Ibn al-Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, h. 72). Setelah itu, Rasulullah menugasi Ali bin Abi Thalib untuk tidur di tempat tidur Rasulullah dengan berselimut dari Hadramaut. Orang kafir Quraisy sudah mengepung di seputar rumah Rasulullah SAWA.

Setelah melewat dua pertiga malam, Nabi SAW berangkat ke rumah Abu Bakar untuk mengawali perjalanan hijrah pada tanggal 2 Rabiul Awal tahun ke 13 kenabian atau 20 Juli 622 M. Dalam situasi terkepung, Nabi mengambil segenggam pasir dan ditaburkan pada orang-orang Quraisy yang akan membunuh beliau. Beliau membaca awal QS. Yasin hingga Ayat  9 :

وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ

“Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat” (QS. Yasin: 9).

Mereka yang mengepung pun tidak melihat Rasulullah yang berjalan menuju ke rumah Abu Bakar.

Abu Bakar melalui pintu belakang, bertolak menuju arah selatan menuju Gua Tsur, untuk mengelabui pemuda Quraisy. Beberapa orang yang mengetahui bahwa Nabi SAW bersembunyi di Gua Tsur adalah Abdullah bin Abu Bakar, Aisyah, Asma’, dan pembantunya Amir bin Fuhairah.

Amir bin Fuhairah ini ditugasi sebagai penggembala. Ia memang sempat ditanya oleh para pemuda Quraisy, tentang apakah Muhammad dan Abu Bakar masuk ke gua Tsur? Amir menjawab: “Mungkin saja, tetapi saya tidak melihat ada orang ke sana”.

Setelah pemuda Quraisy sampai di depan gua, ia melihat ada sarang laba-laba. Selain itu, ia juga melihat dua ekor burung merpati di lubang gua itu, yang seakan menunggui pejangan yang mengerami telornya. Akhirnya pemuda itu kembali turun, karena yakin bahwa tidak ada manusia di dalam Gua Tsur tersebut.

Setelah berlalu tiga hari tiga malam, dan situasi dirasakan aman, Nabi dan Abu Bakar meneruskan perjalanan ke Yatsrib, dan membutuhkan waktu delapan hari delapan malam.

Jalur yang ditempuh pun berliku. Beliau melalui jalur Hudaibiyah (yang sekarang menjadi salah satu tempat miqat Umrah sunnah), kawasan Jumum dekat Usfan. Ke arah barat lagi ke perkampungan Ummu al-Ma’bad dan berhenti di Juhfah. Setelah itu berhenti di Quba untuk menjalankan Shalat Jumat. Dan untuk mengabadikannya, dibangun Masjid Quba, masjid pertama yang dibangun Rasulullah SAW, yang disebut Masjid Jumat.

Ilustrasi di atas menggambarkan, betapa berat dan berliku perjuangan Rasulullah. Beliau menyiapkan strategi dan taktik, untuk mengelabuhi mereka. Setelah lima belas hari, Rasulullah menuju Madinah, membangun Masjid Nabawi dan rumah beliau.

Muhammad Husain Haikal dalam Sirah Muhammad menyebutkan, bahwa hijrah Rasulullah SAW adalah dalam rangka menyelamatkan akidah umat yang mengikuti beliau. Karena itu, hijrah bisa dimaknai meninggalkan hal-hal yang dilarang dan menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah. Bahkan realitasnya, beliau memandang perjuangan selama 12 tahun di Mekah, karena tidak didukung oleh power atau kekuasaan, meskipun fokusnya penanaman akidah tauhid, menunjukkan hasil yang kurang sesuai harapan.

Hijrah ke Yatsrib, memang baru awal peletakan dan fondasi kekuasaan. Pertama, nama Yatsrib beliau ganti dengan Madinah, yang berarti peradaban, dimaksudkan agar orang-orang Madinah bisa tumbuh menjadi warga yang berperadaban. Kedua, membangun soliditas masyarakat, dengan mempersaudarakan antara warga pendatang (muhajirin), dan warga Madinah yang terlibat konflik berkepanjangan tama suku Aus dan Khazraj. Ketiga, menyiapkan fondasi dan tata kelola entitas sebuah negara, melalui konsep umat untuk menyatukan seluruh suku dan klan yang ada di Madinah.

Keempat, menyiapkan dan membangun konstruksi dan kohesifitas pola hubungan dan kerjasama berbasis nilai persamaan ( equality/musawah), keadilan (‘adalah/justice), keseimbangan (balance/tawazun), toleransi (tasamuh/tolerant), persaudaraan (ukhuwwah/brotherhood), dan lain-lain, yang diformulasikan dalam konstitusi/piagam/mitsaq Madinah.

Melalui piagam Madinah inilah, secara bertahap entitas Madinah sebagai sebuah entitas “negara” mulai menunjukkan hasil yang signifikan. Rasulullah SAW mulai diakui sebagai pemimpin agama dan sekaligus sebagai pemimpin negara/pemerintahan. Montgomery Watt dan Philip K. Hitti misalnya, adalah ilmuwan Barat yang mengakui bahwa Muhammad saw adalah seorang nabi dan negarawan (Muhammad : the Prophet and Statesmen).

Itupun masih butuh perjuangan berat, bagaimana Rasulullah bisa menaklukkan Mekah. Beberapa referensi menyebutkan, beliau merancang untuk dapat menjalankan ibadah umrah melalui  perjanjian Hudaibiyah yang prosesnya berjalan alot. Pendek cerita, perjanjian Hudaibiyah ini akhirnya disepakati oleh orang-orang kafir Mekah, meskipun dengan catatan semua senjata – baca pedang — harus dalam keadaan tersarungkan. Setelah beliau bersama para sahabat menjalankan ibadah umrah, ternyata berjalan dengan nyaman, memunculkan kesan yang sangat positif bagi kaum kafir Quraisy. Akhirnya, mereka berbondong-bondong datang kepada Rasulullah saw untuk menyatakan diri masuk Islam (QS. Al-Fath: 1-3).

Itulah sepenggal narasi peristiwa hijrah, yang membawa perubahan sangat penting dalam sejarah perjuangan dan dakwah Rasulullah di masa-masa yang sangat sulit dan membutuhkan strategi, metode, dan pendekatan yang merangkul warga Madinah melalui konsep persaudaraan sejati antara kaum Muhajirin dan Anshor. Karena itu, moment dan peristiwa hijrah, semestinya menjadi pelajaran yang sangat penting bagi kita sebagai pengikut beliau yang ingin berkomitmen dan istiqamah meneladani beliau.

*) Penulis adalah Wakil Ketua PCNU Bandar Lampung/Dosen UIN Lampung

Beritahu temanmu dengan membagikannyaShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on TumblrShare on VKShare on YummlyShare on StumbleUponShare on RedditPin on PinterestEmail this to someoneDigg this