Sek MUI Balam Abdul Aziz 20180821_092422

Idul Adha 1439 H Jatuh pada 22 Agustus 2018 itu Ilmiah

Idul Adha 1439 H Jatuh pada 22 Agustus 2018 itu Ilmiah

Oleh: Abdul Azis

IBADAH itu terikat dengan ruang dan waktu dimana kita berada. Hari ini masih puasa arofah untuk wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Walaupun hari ini sudah masuk Yaumin Nahar/Idul Adha di Arab Saudi dan sekitarnya.

Kalender Hijriyah menggunakan siklus peredaran bulan, kalender qomariyah/condro sengkolo, penentuan jatuhnya setiap tanggal satu/awal bulan setiap bulannya, harus berdasarkan Rukyatul Hilal (bulan tampak/visibilitas bulan).

Kemungkinan bulan bisa dilihat (Imkanur Rukyah), kalau ketinggian hilal/bulan sabit, minimal dua derajat diatas ufuk, setelah matahari terbenam (ghurub). Hal ini harus selalu dilakukan  setiap tanggal 29 setiap bulannya. Apabila hilal bisa dilihat/dirukyah, maka jatuhlah tanggal 1 bulan berikutnya. Apabila belum bisa dilihat, baik karena usia hilal masih terlalu muda (dibawah dua derajat atah bahkan minus) maupun karena faktor alam (iklim dan cuaca), maka di Istikmalkan/digenapkan bulannya menjadi 30 hari.

Case Study, dasar ilmiah penetapan Idul Adha 1439 H bertepatan dengan 22 Agustus 2018 M. Konjungsi geosentrik atau konjungsi (ijtima’), peristiwa ketika bujur ekliptika Bulan sama dengan bujur ekliptika Matahari, dengan pengamat diandaikan berada di pusat Bumi, terjadi pada hari Sabtu,  29 Dzulqa’dah 1439 H. atau 11 Agustus 2018 M, pukul 16 : 58 WIB atau 17 : 58 WITA atau pukul 18 : 58 WIT, periode sinodis bulan sendiri, terhitung sejak konjungsi sebelumnya hingga konjungsi yang akan datang, 29 hari 7 jam 10 menit.

Ketinggian Hilal di Indonesia pada tanggal 11 Agustus 2018, saat Matahari terbenam di ufuk barat, berkisar antara -1,96o (minus) di Merauke Papua sampai dengan 0,24o di Sabang Aceh.

Jadi, bulan dzulqa’dah 1439 H di istikmalkan (digenapkan) menjadi 30 hari penuh, konsekuensi logisnya, 1 dzulhijjah 1439 H. jatuh pada hari senin, 13 Agustus 2018, Idul Adha/Yaumin Nahar (10 dzulhijjah 1439 H.) otomatis jatuh pada 22 Agustus 2018.

Nggak ada urusannya dengan keputusan Pemerintahan Arab Saudi, justru, kalau ngotot/ngeyel ikut Arab Saudi, pertanyaannya, penetapan 1 dzulhijjahnya pakai metode apa? Jelas itu bertentangan dengan prinsip ilmu pengetahuan.

Di Arab Saudi dan di negara – negara Timur Tengah, pada umumnya tinggi hilal/bulan sabit setelah ghurub/matahari terbenam pada hari Sabtu, tanggal 29 Dzulqa’dah 1439 H. bertepatan dengan 11 Agustus 2018 sudah memenuhi syarat imkanur rukyah, yakni usia bulan sudah mencapai dua derajat diatas ufuk.

Wajar sekali kalau Arab Saudi memutuskan 1 Dzulhijjah 1439 H Jatuh pada hari minggu/ahad, 12 Agustus 2018 M. Konsekuensi logisnya, Idul Adha di Arab Saudi jatuh pada hari selasa, 21 Agustus 2018

Bagaimana dengan masyarakat muslim Indonesia, ya ikut ruang dan waktu yang ada di Indonesia. Ini sama dengan sholat lima waktu, yang juga pelaksanaannya (masuk waktu sholat), mengikuti peredaran waktu dimana kita berada. Masa Sholat Dhuhur di Indonesia, waktunya ikut Arab Saudi. Itu namanya “gagal faham”,,, he ,,, he

Arab Saudi juga menegaskan lewat ulamanya yang sangat terkenal di kalangan “Wahabi”,  Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam Majmu Fatawa wa Rosail Fadhilah al Syeikh Muhammad bin Sholih al Utsaimin jilid 20 halaman 47-48, berpandangan Idul Adha mengikuti keputusan pemerintah setempat, bukan mengikuti keputusan pemerintah Saudi Arabia.

Nah Loh ,,,,,,,!!!

*) Penulis adalah Sekretaris Umum MUI Kota Bandar Lampung

Beritahu temanmu dengan membagikannyaShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on TumblrShare on VKShare on YummlyShare on StumbleUponShare on RedditPin on PinterestEmail this to someoneDigg this