Rudy Irawan

Menyiapkan Generasi Berkarakter dan Bertaqwa dari Keluarga

Menyiapkan Generasi Berkarakter dan Bertaqwa dari Keluarga

Oleh : Rudy Irawan

KELUARGA adalah basic dan unit terkecil keberhasilan untuk menyiapkan generasi berkarakter dan bertqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu keluargalah yang menjadi pusat pendidikan karakter dan keberagamaan yang pertama dan utama.

Setelah itu, pendidikan di sekolah atau madrasah dan pesantren menjadi pendidikan kedua, guna mematangkan pembentukan karakter dan ketaqwaan anak untuk menjadi generasi masa depan bangsa ini.

Pendidikan di lingkungan masyarakat yang sekarang ini menjadi tantangan terbesar bagi generasi muda kita. Anak sudah dididik dalam lingkungan keluarga dan madrasah, sekolah, atau pesantren, sudah demikian baik. Akan tetapi generasi muda akan mudah terjebak dalam godaan narkoba, information technology (IT) di era gadget atau smartphone dengan media sosial yang kadang tidak jelas antara berita hoax dan berita resmi, karena perbedaan pilihan pengguna media sosial, dapat menimbulkan “kegaduhan” dan saling “hasut” atau saling bully antara seseorang atau kelompok tertentu pada yang lainnya.

Disiniah dibutuhkan adanya sinergi dan simbiosis mutualistik antara berbagai lingkungan pendidikan dan dunia politik, budaya, ekonomi, yang sering tidak sebanding. Apakah itu dalam soal bagaimana cara berbusana yang cenderung mengimpor dari luar yang dari sisi nilai belum tentu cocok, dengan komitmen dan karakteristik budaya Indonesia, yang sesungguhnya dikenal sangat baik, agamis, dan toleran.

Bayangkan saja, negara kita, Indonesia tercinta ini, sudah dinyatakan sebagai negara darurat narkoba. Di sisi lain, banyak juga akibat anak-anak yang tidak mampu mengontrol diri, banyak dari mereka yang masih sangat muda, tidak mampu membentengi diri mereka dari godaan situs-situs dan media yang kurang mendidik, menyebabkan mereka terjerumus dalam free-sex, akibatnya mereka hamil sebelum menikah. Di sinilah pernikahan usia dini, masih banyak terjadi di beberapa daerah di Indonesia ini.

Implikasi ikutannya dari mereka yang terjebak pada godaan free-sex, yang berakibat kehamilan di usia sangat muda, mereka harus “dinikahkan”. Berikutnya, mereka tidak lagi bisa sekolah, dan harus berumah tangga sebelum matang usia dan kemandiriannya. Ini berpotensi mereka akan menjadi “keluarga miskin baru”. Karena itu, lagi-lagi pendidikan agama dan ketaqwaan kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa dalam keluarga menjadi sangat-sangat penting , mendasar, dan akan menjadi fondasi guna menopang bangunan karakter yang akan dibutuhkan pada masa-masa dewasa mereka.

Memang, mendidik dan menanamkan karakter, keimanan, dan ketaqwaan kepada Allah, sungguh tidak  mudah. Ini mengingatkan sebuah nadham ‘Aqidatu l-‘Awam, bahwa “pertama kali kewajiban yang harus ditanamkan kepada anak manusia adalah mengetahui Tuhan (Allah) dengan keyakinan” atau “awwalu waajibin ‘ala l-insaani ma’rifatu l-ilaahi bi istiqaani”.

Keimanan dapat ditanamkan dengan baik, harus didukung dengan amaliah keagamaan melalui pendidikan shalat pada anak usia tujuh tahun, dan diberi “pelajaran” dengan “pukulan” yang tidak menyakiti, jika sampai  usia sepuluh tahun masih belum mau mengerjakannya dengan baik. Selain itu, pembiasaan bertutur kata yang baik, berlatih menjadi dermawan melalui santunan kepada orang yang membutuhkan, mengisi kotak infaq di masjid, dan kebiasaan bersedekah, akan membiasakan mereka.

Yang jelas, melalui pendidikan keluarga bangsa ini berharap akan mampu mewujudkan generasi millenial yang tangguh, memiliki karakter dan ketaqwaan yang kokoh, dan mereka akan tumbuh menjadi calon-calon pemimpin bangsa di masa depan yang tahan dari berbagai godaan dan jebakan nafsu agkara murka.

Semoga Allah Tuhan Yang Maha Esa, menganugrahkan kebaikan dan generasi muda yang tangguh di masa depan.

Allah a’lam bi sh-shawab.

*) penulis adalah Wakil Ketua PCNU Bandar Lampung/Dosen UIN Lampung

Beritahu temanmu dengan membagikannyaShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on TumblrShare on VKShare on YummlyShare on StumbleUponShare on RedditPin on PinterestEmail this to someoneDigg this